mereka yang sudi

Thursday, June 24

Tarbiyah adalah dasar pembentukan


Imam Al-Banna mengajak kita untuk menolehkan pandangan pada tarbiyah, beliau menegaskan akan pentingnya keteguhan setiap individu terhadap tarbiyah dan mujahadah (kesungguhan) sehingga menjadi tiang yang kukuh dan generasi yang sempurna, beliau berkata: “bahawa ma’rakah (perjuangan) kita paling utama adalah tarbiyah” disuburkan di tengah-tengah umat akan kefahaman bahawa apapun bentuk dakwah yang tidak di dasarkan pada kerja tarbiyah pada hakikatnya adalah ibarat fatamorgana yang menipu, dan Imam Al-Banna memahami bahawa pembangunan generasi merupakan suatu keharusan dalam usaha melakukan perbaikan, dan diantara keistimewaan dakwah Al-Ikhwan dari yang lainnya adalah kerana Al-Ikhwan berjalan dengan tarbiyah yang mampu mewujudkan eksistensi dan tawrits dakwah, dan hal tersebut merupakan bentuk yang menakjubkan dalam jamaah ini seperti yang disebutkan oleh imam Al-Adwi sebagai “Jamaah Tarbawiyah”.

Tarbiyah menurut Al-Ikhwan adalah satu-satunya jalan untuk dapat membangun generasi yang soleh dan bertaqwa, sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan sosok muslim yang jujur dan memiliki jiwa pejuang, dan Al-Ikhwan memahami bahawa tarbiyah memerlukan jalan panjang dan berat serta memiliki banyak rintangan dan hambatan, sehingga tidak ada yang mampu bersabar menjalankannya kecuali hanya sedikit saja. Namun ini merupakan satu-satunya jalan menuju satu tujuan dan tidak ada alternatif lainnya, sehingga dengan itu pula Al-Ikhwan menamakan gerakan ini dengan sebutan “Sekolah pembinaan dan pembentukan atas dasar manhaj yang komprehensif dan agung”… madrasah yang menjadikan agama sebagai sumber kehiduapn, madrasah yang mampu mentarbiyah potensi individu, melakukan perjanjian dengannya dan membentuknya memiliki sifat-sifat amilin yang soleh dan sempurna baik kefahaman mahupun keyakinan, akhlah dan perilaku, sehingga menghadirkan contoh yang agung sepanjang sejarah dan perjalanannya, dan menjadi sebaik-baik madrasah. Dan sekiranya tidak ada tarbiyah maka Al-Ikhwan tidak akan mampu menghadapi zionis dan mengalahkannya saat terjadi perang di bumi Palestin, menghadapi pasukan Inggeris di terusan Suez, menghadapi berbagai ujian, cubaan, penjara, siksaan dan celaan yang mendera mereka.

Imam al-Banna merupakan pengasas di saat terjadi perubahan pada sisi Islam yang mulia dari sekadar pandangan-pandangan teoritis yang terdapat dalam buku-buku kepada alam realiti yang dapat dirasakan dan disentuh melalui tarbiyah dan takwin, dan menegaskan akan pentingnya memantau barisan dan membersihkannya dari kelemahan, beliau berkata: “Jika diantara kalian adalah kelompok yang sakit hatinya, menyembunyikan tujuan terselubung, ketamakan yang ditutup-tutupi dan kecewa pada masa lalu, maka keluarkanlah semuanya dari jiwa kalian; kerana yang demikian akan menjadi pembatas masuknya rahmat, penutup masuk cahaya dari taufik ke dalam hati”.

Kandungan tarbiyah

Al-Ikhwan telah memberikan batasan konsep tarbiyah dan takwin sebagai berikut:

1. Metode yang bersinergi dalam berinteraksi dengan fitrah manusia dalam bentuk arahan langsung; baik dengan kata-kata dan qudwah (ketauladanan), sesuai dengan manhaj dan sarana khusus untuk melakukan perubahan manusia untuk menjadi lebih baik.

2. Susunan pengalaman tarbiyah yang digerakkan oleh jamaah terhadap individu dengan tujuan untuk membantu mereka melakukan pertumbuhan yang komprehensif, integral dan seimbang dalam berbagai sisinya (iman dan akhlak, sosial dan politik, akal dan jiwa, tsaqofah dan seni, jasad dan ruh); dengan pertumbuhan yang mengarah pada perbaikan perilaku dan bekerja untuk mewujudkan tarbiyah solehah yang diidam-idamkan.

3. Merubah manusia dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dalam (pandangan dan ideologi, perasaan dan indra, tujuan dan sarananya), pembentukan yang menembus ruh, alam nyata dan rasa, bukan hanya dalam bentuk nyata saja, yang direfleksikan dalam perjuangan dan kesungguhan yang menyatu pada individu sosok yang ditarbiyah dan dari orang yang teguh dengan tarbiyah, mampu melintasi jalan panjang yang menyebar menyentuh setiap individu, keluarga dan masyarakat sesuai dengan sistem dan bangunan Islam yang integral; dengan memperhatikan tahap-tahap perubahan yang diidam-idamkan; “pengetahuan, perasaan dan perilaku” atau “jiwa, hati dan raga”, sebagai manhaj untuk melakukan pembentukan yang diawali oleh individu.

No comments: