mereka yang sudi

Thursday, May 13

PEMUDA ISLAM & AMANAH DAKWAH



نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”
(Surah al-Kahfi 18: 13)
Kaum muda merupakan lapisan masyarakat yang paling kritis. Mereka memiliki wawasan ke depan dan tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Sikap pemuda sentiasa idealis, penuh cita-cita dan harapan. Baik terhadap sesuatu yang baik ataupun yang buruk.

Lantaran itu pula anak-anak remaja, bakal pemuda, menjadi sasaran orang-orang yang ingin merubah kondisi suatu masyarakat menjadi buruk. Mereka dihidangkan dengan kebatilan yang menjadikan mereka jauh dari agama ALLAH. Mereka diberikan racun melalui media massa, berupa televisyen, radio, majalah, filem-filem, komik, novel dan sebagainya. Itulah racun sekularisme, pembaratan serta penurunan moral dengan berbagai bentuknya.
Maka lihatlah anak-anak remaja yang membuat masalah di tengah-tengah masyarakat. Mereka hidup untuk mengganggu orang lain, bermabuk-mabukan, berpesta dan berdisko, berpeleseran di waktu malam tanpa tujuan dan lain-lain. Keadaan ini disedari atau tidak merupakan hasil perusakan terhadap generasi muda melalui media massa yang terancang. Yang lebih berbahaya adalah perusakan pola fikir melalui orang-orang yang mengaku dirinya intelek, yang rata-rata lulusan barat yang canggih dengan ilmu dan pengetahuan serta falsafah yang membingungkan. Dan sasaran mereka ini pun adalah para pemuda, kerana mereka pun ingin diikuti oleh para pemuda. Mereka-mereka itu sebenarnya generasi muda yang berpotensi. Hanya saja situasi lingkungan yang buruk dan menyesatkan, membuatkan mereka hanyut dibawa program syaitan dan iblis.

Dakwah Islam dan Pemuda
Perubahan masyarakat dari buruk menjadi baik, dari jahiliyyah menjadi Islam merupakan sasaran dakwah Islam. Islam merupakan agama yang mengajak umatnya berfikir dinamis, kritis dan kreatif… tapi bukan untuk merusak. Islam tidak menyetujui sikap jumud (statik) dalam segala hal. Kerana sifat dakwah Islam seperti di atas, maka dakwah ini mudah diterima dan dicerna oleh kalangan muda… tidak membingungkan dan meragukan.
Semangat dan cita-cita yang tinggi para pemuda hanya dapat ditampung dan disalurkan oleh Islam. Sebab Islam adalah ajaran ALLAH yang sempurna, tanpa cacat dan cela. Islam adalah agama yang mengajak manusia kepada kebaikan di dunia dan akhirat.
Ajaran Islam mengarahkan dan membimbing pemuda untuk beribadah, mengabdi, dan berbakti kepada Dzat yang Maha Tinggi, Agung dan Mulia… iaitu ALLAH SWT. Islam melatih mereka agar selalu menghubungkan diri kepada Penguasa Tunggal alam semesta. Dengan ini, mereka menjadi orang-orang yang akan menyebarluaskan rahmat dan kasih sayang ALLAH ke tengah-tengah umat manusia. Islam tidak rela para pemuda yang berpotensi itu terjerumus dalam kebejatan moral yang akan membuat mereka menjadi musuh ALLAH dan sampah masyarakat.
Tidak menghairankan, ketika Islam muncul, para pendukungnya kebanyakkan terdiri dari kaum muda yang haus akan kebenaran dan keadilan. Rasulullah SAW selama 13 tahun pertama berdakwah di Makkah tidak banyak menghasilkan jumlah pengikut. Kerana penduduk Makkah kebanyakan orang-orang tua yang sangat kuat memegang tradisi dan adat istiadat jahiliyyah.
Tetapi ketika Islam di bawa ke Madinah, sambutan meriah dan positif pun mengalir bagai ombak yang bergulung. Penduduk Madinah melihat Islam sebagai atauran hidup yang benar. Hati mereka diterangi cahaya petunjuk ALLAH. Maka dengan ikhlas mereka tinggalkan semua adat kebiasaan jahiliyyah dan merubahnya menjadi Islam. Mereka tukar kekufuran dan kedurhakaan dengan iman dan ketaatan. Hal ini disebabkan penduduk Madinah umumnya terdiri dari kaum muda.
Di sisi lain, Rasulullah SAW pun menjadikan pemuda sebagai anasir taghyir (unsur-unsur perubah). Mereka dilatih dan dibimbing untuk menjadi pemimpin dan juru dakwah. Mereka dibentuk menjadi kader-kader Islam yang tangguh dan cekal. Mereka antara lain Ali bin Abi Talib, Mus’ab bin Umair, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, juga kebanyakan para sahabat Nabi.
Sebagai contoh, da’ie dan duta Islam pertama yang diutus Rasulullah SAW di kota Yathrib adalah Mus’ab bin Umair. Dahulunya, dia adalah pemuda yang perwatakan kemas dan selalu berpakaian cantik. Setelah menerima Islam dan dikader Rasulullah SAW, Mus’ab berubah menjadi pemuda sederhana, tetapi aktif di jalan dakwahdan jihad Islam. Sehingga wafatnya Mus’ab, Rasulullah menitiskan air matanya melihat Mus’ab yang dahulunya mewah, hanya dikafani kain yang buruk. Beruntunglah Mus’ab sebagai pemuda dakwah yang telah menjalankan amanahnya.
Kendatipun masih muda belia, prestasi Mus’ab dalam dakwah sangat hebat. Dalam tempoh waktu kurang dari setahun, dia berjaya mengIslamkan kurang lebih 70 orang penduduk Yathrib. Mereka itulah yang datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai’ah (berjanji setia sehidup semati) di bukit Aqabah.
Sifat Pemuda Dakwah
Dengan pemuda sebagai hujun tombak untuk dakwah, maka Islam pun meluncur bagai anak panah. Potensi tenaga muda mereak diarahkan untuk hal yang positif dan membangun (jiwa Islam), iaitu menegakkan DinuLLAH. Al-Quran mengambarkan pemuda yang aktif dalam dakwah Islam pada kisah Ashhabul Kahfi.
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". (Surah al-Kahfi 18: 13 – 14)
Dari ayat yang mulia ini dapat kita fahami bahawa para pemuda dakwah memiliki tiga karakter utama yang mendasar, iaitu:
1. Iman kepada RABB mereka (ALLAH)
Mereka merupakan pemuda-pemuda yang meyakini ALLAH, Rasul, Malaikat, Kitab, Hari Akhir dan Qadha dan Qadar. Nilai keimanan pemuda jauh lebih tinggi dari nilai keimanan orang yang sudah tua. Sebab para pemuda beriman di tengah-tengah gejolak nafsu muda yang masih berkobar, sementara orang-orang yang sudah tua melakukan ketaatan tanpa halangan kerana sudah mendekati akhir hayat.
Para pemuda dakwah sentiasa meningkatkan dan mempertahankan iman yang menyala dalam hati mereka. Mereka tidak rela sedikitpun iman itu berubah atau berkurang. Mereka berupaya menghidupkan api iman ini di tengah-tengah masyarakat. Kerana menyedari bahawa manusia tanpa iman tiada nilainya di sisi ALLAH.
2. Selalu mengikuti petunjuk ALLAH
iaitu para pemuda yang tahu arah perjalanan dan sentiasa berjuang menegakkan kebenaran denagn petunjuk bimbingan ALLAH. Mereka selalu berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sebagi hidayah ALLAH yang diyakini akan menyelesaikan segal persoalan dengan adil dan bijaksana. Mereka ingin masyarakat diatur oleh Pencipta alam semesta dan tidak diatur oleh mereka sendiri atau dikendalikan oleh hawa nafsu segolongan manusia tertentu.
3. Bersikap Furqan
Para pemuda dakwah mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah). Mereka mengerti betul, mana yang membawa keimanan dan Islam dan mana yang membawa kekufuran dan kesesatan. Setelah itu, mereka menolak segala hal yang membawa kepada kekufuran dan menerima keimanan dengan penerimaan yang total. Sikap furqan merupakan pancaran keimanan dan kefahaman terhadap TauhiduLLAH yang diajarkan Islam. Mereka meyakini bahawa ALLAH adalah satu-satunya sumber hidup yang harus ditaati dan sumber ilmu agar diri tidak merasa sombong serta dijadikan tujuan akhir. Beserta itu, mereka menolak hak ALLAH ini diberikan pada selain ALLAH.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surah al-Anfaal 8: 29)
Selain itu, beberapa karakter yang lain juga menjadikan para pemuda mampu untuk mengemban tugas dakwah. Di antaranya:
4. Bersikap kritis menghadapi masyarakat
Para pemuda dakwah mengerti betul kondisi masyarakat yang menjadi medan dakwahnya. Mereka tahu bagaimana menghadapi situasi itu secara benar dan kritis. Kekritisan mereka tidak menjadikan mereka anarkis atau membuat mereka ekstrim. Mereka memahami jalan menuju perubahan umat dan bekerja untuk itu secara hati-hati dan teliti.

5. Berbeda dalam prinsip dan sikap hidup, tetapi bergabung di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat
Para pemuda dakwah menyedari kekeliruan yang ada pada masyarakat dan sanggup untuk menghindarkan diri mereka dari kekeliruan tersebut. Sementara mereka tetap hidup dan bercampur di tengah-tengah masyarakat itu dengan prinsip dan akhlaq yang berbeda. Mereka tidak tertipu dengan kondisi masyarakat yang membuat-buat kedustaan terhadap agama ALLAH. Hal ini tampak dalam kenyataan mereka di ayat berikut:
Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Surah al-Kahfi 18: 15)
Akhirul kalam, Imam As-Syahid Hassan al-Banna pernah menyatakan bahawa umat Islam dewasa ini tidak ada lagi mempunyai kekuatan. Sumber alam yang ada di bumi umat Islam semuanya habis terkuras oleh tangan-tangan asing. Kualiti umat Islam bagaikan buih-buih di lautan walaupun mereka ramai. Tapi ingatlah, bahawa ada satu kekuatan tersembunyi dari tubuh umat Islam iaitu para pemuda (as-Syabab). Bangunlah wahai pemuda! Dakwah amat memerlukan jiwa-jiwa yang cekal untuk mengembannnya. Kamu amat diperlukan untuk mengembalikan umat Islam dari kehinaan kepada kemuliaan! Jadilah junduLLAH yang akan memperjuangkan agama ALLAH hingga akhir hayatmu seperti Mus’ab bin Umair atau Zaid bin Khattab.

Penyakit Hati dan Rawatannya

Penyakit-penyakit yang biasa terdapat dalam jiwa manusia ialah seperti berikut:

1. Mensyirikkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
2. Melakukan amalan yang berdosa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
3. Lalai terhadap tugas yang dipertanggungjawabkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada hamba yang Muslim.
4. Menghina dan memandang kecil kepada orang yang dikasihi dan disokong Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
5. Meninggalkan keputusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam kehidupan, sebaliknya mengambil keputusan yang lain.
Dalam realiti kini, segala ketentuan dan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dipandang tidak baik dan tidak diredhai oleh manusia. Manusia tidak memberi harga dan nilai kepada kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Manusia memandang sepi terhadap ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mungkin terdapat segelintir manusia daripada umat ini yang memandang berat, mulia, tinggi dan agung dengan keputusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi umumnya apabila dikemukakan keputusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka dirasakan menjatuhkan maruah, seterusnya bersikap tidak mempedu likan dan tidak mengendahkan keputusan tersebut. Inilah penyakit jiwa.
6. Tidak merujuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebaliknya mengambil rujukan yang lain dalam permasalahan hidup meliputi di bidang ilmu penge­tahuan, sistem, peraturan dan sebagainya.
7. Tidak bergantung harap kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebaliknya bergantung harap kepada ilah-ilah selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Apabila manusia tidak merujuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka sudah tentu tiada lagi pergantungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hakikat ini dinilai berasaskan praktik hidup manusia hari ini, meskipun dari segi dakwaan sememangnya mereka mengakui merujuk dan bergantung Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Inilah yang sedang nyata berlaku.
8. Mencurigai, syak dan sangsi kepada janji-janji dan peringatan-peringatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberitahu orang-orang yang beriman, bertaqwa dan beramal saleh akan janji syurga. Allah juga memberitahu orang-orang yang menentang-Nya akan janji azab neraka. Namun dalam perlaksanaan hidup manusia kini, ramai merasa syak dan sangsi terhadap janji-janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jika manusia yakin akan janji-janji itu, sudah tentu realiti manusia berbeza daripada apa yang ada sekarang. Kini secara meluas manusia berasa curiga dan syak dengan janji-janji dan ingatan-ingatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Itulah perkara-perkara atau sebab-sebab yang membawa penyakit kepada jiwa manusia.
UBAT YANG MUJARAB

Tidak ada ubat yang dapat mengubati penyakit-penyakit itu melainkan ubat yang ditunjukkan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam. Janganlah berusaha mencari ubat-ubat yang lain. Tidak akan sembuh penyakit-penyakit itu melainkan dengan ubat yang telah digunakan oleh Baginda Sallallahu’alaihiwasallam.
Untuk mengubati sesuatu penyakit, perlu terlebih dahulu kita melihat jenis penyakit tersebut. Ubat yang mujarab ialah apa yang berlawanan dengan penyakit yang menyerang manusia.
1. Jika penyakit itu ialah mensyirikkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka ubatnya ialah mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
2. Jika penyakit itu ialah melakukan amalan berdosa, ubatnya ialah meninggalkan amalan itu dan bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
3. Jika penyakit itu ialah lalai dengan tanggungjawab yang diber ikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ubatnya ialah menyedari akan tanggungjawab terse­but.
4. Jika penyakit itu ialah membenci dan memandang kecil terhadap perkara yang disukai Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ubatnya ialah perlu mengambil berat, suka, redha dan cinta terhadapnya.
5. Jika penyakit itu ialah merujuk kepada selain daripada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ubatnya ialah kembali merujuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam semua hal kehidupan.
Manusia perlu faham dan sedar bahawa setiap detik kehidupan boleh terlepas daripada keputusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Segala-galanya perlu dirujuk dan dikembalikan kepada keputusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. iaitu meru juk dan kembali kepada syarak atau Islam sahaja.
6. Jika penyakit itu ialah memandang kecil dan hina terhadap nilai-nilai Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ubatnya ialah kembali menilai dengan tinggi, agung dan baik akan nilai-nilai Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Manusia harus diberi kefahaman sebenar terhadap nilai-nilai Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan ditarbiyyah. Dengan cara ini barulah penyakit tersebut dapat sembuh.

KERIANGAN MEREKA YANG MENTAUHIDKAN ALLAH
Keseluruhan cara pengubatan di atas dipanggil cara pengubatan Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam terhadap penyakit-penyakit jiwa.
Penyakit mensyirikkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, disembuhkan dengan cara kembali mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membuka pintu kebaikan, kegembiraan, dan keriangan. Riang dan gembira orang-orang yang beriman ialah riang yang hakiki dan tidak berpu ra-pura. Keriangan mereka lahir daripada tindakan mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Keriangan mereka adalah keriangan berterusan walaupun mereka diancam dan dikecam.
Inilah keriangan dan kegembiraan bagi orang-orang yang mentauhid kan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka sentiasa bertindak di atas landasan sya ra'. Sekiranya mereka bertindak di atas landasan syara' tetapi tidak merasai kepuasan, kelazatan dan keriangan, bermakna tauhid itu belum mantap. Mungkin masih terdapat penyakit di jiwa mereka.

TAUBAT
Taubat bermakna manusia kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, peraturan-Nya dan hukum-Nya. Taubat ialah membuang dan mengosongkan diri dari pada segala bentuk campuran yang buruk atau campuran yang boleh merosakkan jiwa. Taubat ialah menjaga diri daripada percampuran nilai-nilai lain dan kembali kepada nilai-nilai Allah Subhanahu Wa Ta'ala sahaja dalam setiap aspek kehidupan. Sekiranya seseorang itu termasuk ke dalam golongan orang-orang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka campuran itu tidak wujud lagi pada dirinya. Inilah sifat orang bertaubat.
Taubat akan menutup segala pintu kejahatan dan membuka pintu kebahagiaan serta kebaikan. Ini boleh dilakukan dengan cara beristigfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mentauhidkan-Nya. Sesiapa yang ingin menyihatkan badan hendaklah dia menjaga makan minum daripa da makanan yang memudharatkan. Sesiapa yang ingin menyihatkan jiwa dan hati maka hendaklah dia meninggalkan segala dosa.

DOSA MELEMAH DAN MEMATIKAN JIWA
Thabit bin Qurrah berkata:
Kerehatan badan bergantung kepada kurangnya makan. Kerehatan jiwa bergantung kepada kurangnya melakukan dosa. Kerehatan lidah bergantung kepada kurangnya bercakap. Dosa bagi hati umpama racun bagi badan. Justeru itu dosa yang dilakukan seseorang umpama meminum racun. Jika dosa itu tidak membinasakan jiwa secara menyeluruh, maka ia akan melemahkan jiwa (seperti racun, walaupun ia mungkin tidak memusnahkan badan tetapi ia tetap melemahkan badan). Jiwa yang lemah tidak lagi mampu melawan penyakit, sama seperti badan yang lemah tidak mampu melaksanakan tanggungjawab dengan baik.
Abdullah bin Mubarak berkata:
Saya dapati dosa itu mematikan jiwa manakala melakukan dosa hingga sampai ke peringkat ketagih akan mewarisi kehinaan. Men inggalkan dosa bermakna menghidupkan hati. Oleh itu adalah baik bagi kamu agar menderhakai dosa

REALITI KINI
Beralih kepada realiti hari ini, manusia secara umumnya mendur hakai syara'. Dosa bukan sahaja menjadi sahabat malah membuat dosa menjadi sumber mata pencarian. Dosa menjadi suatu kelazatan.Hawa nafsu menjadi ganas. Jiwa manusia lebih cenderung kepada kejahilan dan kezaliman. Sifat fujur mengatasi sifat taqwa. Jiwa semakin sukar untuk menerima nasihat atau ubat. Jiwa masyarakat berasa cukup gelisah bila dengar kalimah syara' lalu dipandang hina, sepi dan serong. Lebih tenat lagi apabila jiwa menolak ubat dan sukakan penyakit. jiwa mengutamakan penyakit daripada ubat sehingga menganggap penyakit itu ubat dan ubat itu penyakit.
Penyakit mencerca Allah Subhanahu Wa Ta'ala berlaku dalam masyarakat. Cercaan ini berlaku dalam pelbagai bentuk sama ada secara tersurat atau tersirat. Contohnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan hujan. Kedapatan manu sia mencerca Allah dengan cara berusaha menghalang hujan dengan alasan atau tujuan untuk menjayakan `malam amal' atau majlis-majlis tertentu. Walaupun Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengizinkan hujan berhenti tetapi itu adalah al-Istidraj. Allah SWT terus membiarkan mereka menunjukkan kemegahan.
Mencerca Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berlaku dengan cara memandang sepi hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala, memandang Islam sebagai cara hidup ketinggalan zaman, mengambil sebahagian daripada Islam dan menolak sebahagian daripadanya.
Realiti ini lebih payah dan sukar bagi para doktor (para penda'wah) untuk mengubatinya. Manusia yang berpenyakit itu pula akan terus memberi musibah dan kemalangan yang besar kepada umat keseluruhannya.

KEINDAHAN HIDUP BERSAMA ALLAH


SENTIASA MERASAI NIKMATNYA
SETIAP KESUSAHAN DIIRINGI KETENANGAN
SUKA DUKA DIAJUKAN KEPADANYA
TIADA MERASA SEDIH
HATI TERASA TENANG DAN BAHAGIA
RASA BENCI DENGAN KEMUNGKARAN
TERASA KASIH PADA YANG KEKURANGAN
SETIAP KESULITAN DIHADIAHKAN PERTOLONGAN
TIDAK SABAR UNTUK BERTEMUNYA…

ANDAI DAPAT KITA MENGHAYATI NIKMAT MENCINTAI ALLAH, SUDAH PASTI KITA AKAN MERASA TERLALU BERDOSA KERANA TIDAK AMBIL PEDULI BAHAWA ALLAH SANGAT KASIH AKAN KITA.
RUGINYA KITA KERANA TIDAK MEMBALAS KASIH ALLAH TERHADAP KITA. DI DUNIA KITA DITATANG, DI AKHIRAT JUGA ALLAH TELAH JANJIKAN KEBAHAGIAAN. TIADA KESUSAHAN YANG ALLAH TIMPAKAN KE ATAS KITA MELAINKAN ALLAH AKAN MEMBERI PERTOLONGAN DAN PETUNJUK.
BEZANYA, BAGAIMANA KITA MENGHADAPI RANJAU DI MUKA BUMI INI? ANDAI BENAR KITA HAMBANYA YANG SOLEH, UJIAN YANG ALLAH TIMPAKAN DIRASAKAN MEMBERI KETENANGAN DAN KEMATANGAN KERANA HATI SEMAKIN DEKAT DENGANNYA.
TERASA SEMAKIN MENYENDIRI, TAPI TETAP TERHIBUR WALAU DALAM LINANGAN AIR MATA YANG PENUH PENYESALAN...


SEDARLAH BAHAWA HIDUP DI DUNIA INI TIDAK LAMA..SEGALA PERBUATAN DAN PERLAKUAN DARI SEBESAR2 PERKARA SEHINGGA SEKECIL2 ZARAH AKAN DIPERHITUNGKAN OLEH ALLAH DI AKHIRAT KELAK..

APAKAH SUMBANGAN YANG TELAH KITA TABURKAN UNTUK ISLAM? ATAU KITA SENDIRI YANG TIDAR SEDAR MENCEMARKAN NAMA ISLAM ITU SENDIRI..

AYUH SAHABAT BANGKIT DARI TIDUR YANG LENA..SUMBANGKAN TENAGA DAN PEMIKIRAN KE ARAH MENDAULATKAN ISLAM..
INGATLAH SESUNGGUHNYA BUKAN ISLAN YANG MEMERLUKAN KITA
TETAPI KITA YANG MEMERLUKAN ISLAM..

WE UNITE FOR ISLAM..

YANG BERNAMA SEORANG PEJUANG

Kehidupan seorang ISLAM itu

Penuh dengan perjuangan

Berjuang demi mencapai mardhatillah

Hingga sampai janji Allah

Antara kemuliaan atau syahid fi sabilillah


Pejuang itu…

Berjuang menentanng kebatilan

Bukan hanya membiarkan nasib umatnya diperkotak-katikkan

Tanpa sebarang pembelaan

Pejuang itu..

Terus berjuang menentang kefasadan

Bukan hanya menangguh tugas

Yang telah menjadi kewajipan


Seorang pejuang itu….

Tidak kenal erti jemu

Tidak kenal erti putus asa

Kerana dia mengerti

Perjuangan itu

Bukan untuk insan yang memnetingkan kerehatan

Dan kesenangan dunia

Tetapi bagi insan…

Yang hatinya mempunyai ikatan kukuh dengan dengan ar-Rahman


Yang bernama seorang pejuang itu…

Rela imannya diuji dengan dugaan

Rela diri dan hartanya dikorbankan

Kerana dia tahu

Perjuangan itu adalah jalan yang panjang

Dan penuh dengan kesukaran

Tiada karpet merah untuk dihamparkan

Tiada bunga-bungaan untuk ditaburkan

Yang ada……..

Hanyalah cacian dan cemuhan yg menguji kesabaran

Duri-duri yang perlu ditempuh sepanjang perjalanan

Mehnah dan tribulasi yang tiada berkesudahan


Sahabatku..

di mana bumi dipijak,di situ islam ditegakkan..

Pembentukan Syaksiyah


Pembentukan syaksiyah para dai’e ialah langkah pertama dalam skop pembinaan agama Islam, walau apapun uslub harakah dan manhaj amalnya.

Syaksiyah Islamiyyah tidak mungkin terbina dan sempurna kelahirannya selagi ia tidak terlepas dan pengaruh kesan kesan masyarakat Jahiliyyah dan dan dualisma penerimaan dan pengarahan.

Patut disebut di sini bahawa maksud pembinaan syaksiyah kamilah ialah pembentukan barisan
kepimpinan atau penyusunan hairaki keanggotaan di setiap peringkat yang dituntut bagi menghadapi penentangan jahiliyyah.

Sifat-sifat yang unggul yang perlu ada dalam syaksiyah Islamiyyah: —

Pertama:
Melepaskan pengaruh cara hidup Jahiliyyah sepenuhnya sama ada dalam perasaan, atau pemikiran dan konsep, atau amalan dan urusan.

Kedua:
Beriltizam dengan Islam dan hukum-hukumnya secara sepenuhnya dan menjadikannya paksi hidup, titik tolak berfikir pengkalan tasawwur dan punca hukum dalam setiap persoalan dan objek.

Ketiga:
Menganggap jihad pada jalan Allah sebagai matlamat asasi dan kewujudan kita. Di mana konsep ini memerlukan persiapan yang cukup untuk berkorban dengan segala sesuatu untuk mencapai tujuannya.

Hakikat yang tidak boleh dipertikaikan lagi bahawa manhaj dan uslub yang dipegang oleh harakah Islamiyyah belum mencapai peringkat yang mampu untuk membentuk syaksiyah Islamiyyah dan segi sifat dan ciri-cirinya. Pada realitinya apa yang dikemukakan oleh manhaj-manhaj ini tidak melebihi sebahagian kecil dan pengetahuan umum Islam dan pengarahan kerohanian atau akhlak yang tidak memampukan kita membentuk individu muslim yang dicita-citakan. Yang membolehkan seseorang itu berkeahlian sebagai ‘rajul al-Aqidah’ — tentera ‘aqidah yang beriman dan hidup untuk ‘aqidahnya mengorbankan sesuatu yang mahal dan berharga demi untuknya.