Saturday, December 1

Apa guna membaca Al-Quran?


Tersebut kisah seorang datuk dan cucunya tinggal di tepi sungai. Setiap pagi datuknya membaca al-Quran dengan suaranya yang merdu mengalunkan ayat-ayat indah Al-Quran dan menyuruhnya cucunya mengaji Al-Quran..
Didesak rasa ingin tahu,si cucu bertanya, “Mengapa Datuk selalu membaca al-Quran? Menjadi rutin, setiap pagi?” Menurut si cucu, sukar untuk memahami kandungan ayat-ayat Al-Quran tersebut,walaupun setelah membaca terjemahannya. “Mengapa memaksakan diri membaca sesuatu yang tidak kita mengerti?”
Mendengar pertanyaan tersebut, si datuk terdiam. Dia tidak menjawab sebaliknya si datuk menyuruh cucunya mengambil air di sungai berdekatan rumah mereka menggunakan bakul bekas arang. Bakul tersebut hitam legam maklumlah bekas tempat arang.
Walaupun tidak faham dan tidak berpuas hati kerana datuknya tidak menjawab soalannya tadi, si cucu mengikut apa yang disuruh oleh datuknya iaitu mengambil air di sungai menggunakan bakul. Tetapi setiap kali air diceduk menggunakan bakul biasalah air akan keluar dari lubang bakul yang diperbuat dari rotan tersebut.
Si cucu memberitahukan hal tersebut kepada datuknya, mustahil untuk mengambil air menggunakan bakul rotan tersebut. Tetapi datuknya menyuruhnya mencuba lagi. Dengan patuh, sang cucu kembali ke sungai dan menceduk air dengan bakul tersebut. Dapat diceduk tetapi air dengan cepat keluar balik. Cucu tersebut berfikir,si cucu memutuskan untuk berlari sambil membawa bakul berisi air tersebut. Mungkin saja setibanya di rumah masih ada air yang tersisa di bakulnya.
Namun begitu bakul tersebut tinggal kosong ketika si cucu sampai rumahnya. Airnya sudah keluar sepanjang perjalanannya. Tidak menerima kegagalan, sang datuk tetap menyuruh si cucu untuk kembali ke sungai dan mengambil air dengan bakul rotan tersebut.
Berkali-kali cucunya berlari dari sungai menuju rumahnya sambil membawa bakul berisi air tersebut. Dia cuba berlari dengan lebih laju, namun hasilnya tetap sama: air sungai tersebut tak pernah sampai ke rumahnya, ke hadapan datuknya. Termengah-mengah,si cucu akhirnya berkata pada datuknya bahawa benar-benar mustahil mengambil air dengan bakul rotan tersebut.
Mendengar pernyataan cucunya, datuknya tersenyum. Ia mengajak cucunya duduk dekat. Lalu berkata,”Begitulah cucuku. Maaf membuatmu penat. Memang tidak ada air yang sampai kesini. Tapi lihatlah, adakah perubahan yang dapat kau lihat pada bakul tersebut?”
Si cucu memperhatikan bakul yang dibawanya tadi untuk pertama kali. Benarlah, ia memang tidak menyedari sebelumnya karena terlalu memikirkan cara bagaimana membawa air dengan bakul tersebut, tapi bakul yang tadinya hitam legam kerana arang tersebut sekarang sudah bersih, berwarna asli seperti rotan asalnya.
“Seperti itulah membaca Al-Quran,” ucap si datuk. “Mungkin masa ini kita belum faham ertinya, belum mengerti pengajarannya. Tapi tanpa kita sedari, ayat-ayat yang selalu kita lantunkan tersebut membuat hati kita bersih dari noda-noda kehidupan, dari buruknya sifat-sifat makhluk fana yang mungkin bersemayam dalam hati kita. Amalkanlah membaca Al-Quran cucuku, sebagai alat pembersih hati.”
Si cucu masih terduduk lelah dengan nafas sedikit termengah-mengah, namun ia mengangguk faham. Rasa ingin tahunya dapat jawapan yang memuaskan hatinya, ia mendapat sesuatu yang berharga hari itu.
Ya Allah bimbinglah hambaMU ini untuk selalu membaca Firman-firman-Mu setiap hari, timbulkanlah rasa rindu di hati ini untuk selalu mengkaji kitab-Mu. Aamiin.

Pilihan dalam bersahabat



Seorang Mukmin yang bertaqwa  akan memilih sahabat yang baik yang dapat membantunya ketika ia berada didalam kesusahan. Sahabat yang dapat memberi nasihat dan teguran ketika ia memerlukannya nasihat dan bimbingan. Untuk mendapat sahabat yang baik terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu ada pada seseorang itu  :

1) Tidak tamak akan kenikmatan dunia (20:131)

“Seseorang di antara kamu tidak beriman dengan sempurna kecuali setelah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (Hadis Nabi)

2) Tidak lalai menjalankan ibadah dan tidak melanggar tuntutan agama

“Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.”(hadis Nabi)

Tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya walau warnanya tetap jernih.

Hadis Nabi:  Mencintai seseorang itu semata-mata  kerana Allah.

3) Bersopan santun dalam berbicara

“Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan selalu membantah.” (Hadis nabi)

4) Sentiasa mendoakan dan merinduinya walaupun berjauhan.

…rindu, kedekatan, dan kehangatan perasaan adalah ibarat bahan bakar yang menyalakan ukhuwah abadi, menambah gelora semangat, dan meringankan segala beban yang ditanggung….aku hairan, mengapa selalu merindukan mereka
menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang ku temui
padahal mereka di sini bersamaku
mataku mencari mereka ke sana kemari
padahal mereka ada di dekat pelupuknya
hatiku bergejolak merindukan mereka
padahal mereka ada di antara tulang rusukku

sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
aku tidak akan berhenti memujimu
dari kejauhan, bersama untaian do'a
jiwaku akan selalu merindukanmu
bersua bersama penuh ketulusan dan cinta

jiwaku adalah jiwanya
hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya

5)Tidak mengadakan perbicaraan rahsia (58:10)

“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat perbicaraan rahsia tanpa melibatkan yang lain, kerana perbuatan itu dapat membuatnya sedih.”(Hadis Nabi)

6) Tidak keras kepala, bersedia menerima nasihat dan berlapang dada

“Cukuplah seseorang dinyatakan buruk, jika ia mengejek saudaranya sesama Muslim.”
( Hadis Nabi)

7) Tidak bantah membantah walaupun berbeza sikap dan hobi, tidak bersikap sombong dan kasar

“Roh-roh itu bagaikan bala tentera, jika mereka saling kenal, maka akan bersatu. Namun jika tidak saling kenal, maka akan berselisih.” (Hadis Nabi)

8) Tidak memberi teguran di depan orang lain

Menegur secara hikmah jika ada sesuatu yang tidak betul.

9) Sentiasa memberi kemaafan dan bersikap toleransi .

terimalah sahabatmu dengan segala kekurangannya
sebagaimana kebaikan mesti diterima walau kecil wujudnya
terimalah sahabatmu kerana jika ia menyakiti
lain kali ia membahagiakan siapa mencari sahabat tanpa cacat, nescaya sepanjang hidupnya tidak mendapat sahabat

“Seorang suami yang Mukmin tidak akan memarahi isterinya yang Mukminah, apabila ia tidak suka terhadap sebagian perangai isterinya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.”(hadis Nabi)

jika tak menegur bererti tiada cinta
cinta tetap bertahan selama ada teguran*

banyak yang tinggal jauh namun ia dekat dihati
banyak orang yang tinggal berdekatan namun hatimu tak mampu menyukai
apalah erti jauh dan dekat melainkan hanya permasalahan nurani

10) Tidak mudah percaya terhadap orang yang-orang yang mengadu domba dan tidak dengki dan dendam.

"…orang2 yang dipertemukan oleh Allah dalam sebuah jalinan ukhuwah harus yakin bahawa satu sama lainnya saling mencintai dengan penuh ketulusan yang muncul dari nurani yang paling dalam. Hubungan yang telus seperti itu tidak mungkin dapat tersentuh oleh tangan tangan dengki, apalagi sampai dapat dihancurkan…"(8:63)

11)Tidak  membuka rahsia

…jadikanlah semua yang anda ketahui tentang dirinya sebagai amanat yang tidak boleh dibuka kecuali jika ia mengizinkan…

12) mengikuti prasangka(49:12)

orang Mukmin selalu mencari alasan agar boleh memaafkan, sementara orang munafik selalu mencari cari kesalahan.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau keburukan atau aib orang lain, yang biasanya merupakan kesan dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا


“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, kerana prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari keburukan orang lain, saling inti-mengintip, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Riwayat  Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563 )

13) Tidak mencampuri masalah peribadi

“diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (hadis Nabi)

14) Tidak  sombong dan mudah merasai simpati.

“Siapa yang mencukupi keperluan saudaranya, nescaya Allah mencukupi keperluannya. Siapa yang menolong seorang Mukmin dari suatu kesusahan, nescaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, nescaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (hadis Nabi)

Setiap sahabat selalu dekat dikala senang namun sahabat sejati adalah yang tetap menemani
ketika penderitaan menimpa.

15) Tidak  menghitung hitung kebaikannya kepadamu

carilah sahabat yang akan kau beri ketulusan dan hak hak ukhuwah, bukannya yang kau harapkan menerima sesuatu darinya

16) Sering mengungkapkan perasaan cinta,…

“Jika seseorang mencintai saudaranya, maka kabarkanlah bahawa ia mencintainya.”(hadis Nabi)

17) Tidak melupakannya kerana sibuk mengurusi orang lain

orang yang tidak boleh membuktikan cintanya kepada sahabat lama tidak akan mampu membangun cinta dengan sahabat baru

18) Tidak suka menonjolkan kelebihan peribadinya

Jika seorang daie mendermakan dakwahnya hanya untuk Allah semata, bukan untuk kepentingan peribadi, masalah-masaalah biasa tidak akan berubah menjadi masaalah besar atau malapetaka…

19) Menepati  janji

“Tanda tanda munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya, ia berkhianat.”(hadis Nabi)

20) Selalu menceritakan perkara yang mengembirakan dan memberi semangat.

21) Bersederhana dalam cinta.

“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.”(hadis Nabi)

Friday, November 30

Kita Yang Sibuk




Assalamu'alaikum

Nampaknya kita tiada lagi alasan, melainkan wajib untuk menghafal Al-Qur'an. Kita tiada lagi alasan untuk mengundurkan diri daripada impian menjadi seorang Hafiz atau Hafizah. Lebih-lebih lagi kita tiada lagi alasan kerana bukan dari bidang agama,tidak faham bahasa Arab, tidak ada masa menghafal dan mengulang hafalan kerana kesibukan yang tak terganggungkan..kerana..

1) Darjat antara syuhada dan seorang syuhada' yang menghafal Al-Qur'an jelas berbeza di sisi Allah. Sehinggakan Rasulullah mendahulukan syuhada' yang huffaz akan dikebumikan dahulu

2) Imam Abu Hanifah, kata ayahdanya bahawa mendidik Imam Abu Hanifah itu adalah 40 tahun sebelum beliau dilahirkan..Kerana mahu sekali generasi kita adalah para Huffaz, maka terhadap kitalah yang perlu memulakan kerana dari rahim ini yang akan mengalirkan darah yang terbaik untuk kesejahteraan iman zuriat kita.

3) Bahawa kita adalah pembina generasi, mencetak kader dakwah dengan muwasoffat muslim yang sempurna. Maka dari lidah dan hati yang bercahaya dengan Al-Qur'an sahaja bisa menyentuh jiwa, mengalirkan iman ke iman yang lain. Pada sentuhannya ada Quwwatul Ta'sir, hingga pengaruh imannya terus menjalar kepada setiap orang yang mengenalinya. itulah kuasa Al-Qur'an yang telah membumi di dadanya.

Maka untuk kita yang sibuk-sibuk ini, telah dipermudahkan secara praktikal untuk menghafal Al-Qur'an. Tanpa perlu ke Maahad Tahfiz, komited sepanjang masa, walau mengambil masa yang lama. Ayuh, jika anak 3 tahun mampu menghafal 30 surah, di mana mahu letakkan malunya kita ini? Apatahlagi kita sebagai seorang penggerak dakwah dan murobbi:

In this post you’ll learn one of
The most effective strategies for doing your hifz of the Quran and building a very close relationship
With Allah (swt) in the process…

+++++++++++++++++++++


So, this technique was taught by the Algerian
Shaykh Zakariya al-Siddiqi who teaches
at the Institute of Human Sciences in
France is one of the foremost scholars
of Quran.

He memorised it by the age of 9 and
dedicated his life to studying and teaching it, and he once told us the story of one of his friends. His friend was an engineering student, who was a 'Fresher' about to embark on a 5 year degree. Let's call him Ahmed...

Ahmed was an intelligent student who
Followed one of the oft-forgotten Sunnah's of Success...

He woke up earlier than most people.
In fact, he woke up on time to get to the
Mosque to pray Fajr every day.

When he got home from the mosque,
instead of busying himself with the
internet or watching television, he spent the first few minutes of each day
memorising the Quran.

Ahmed made a firm commitment to
memorise the Quran, but instead of
rushing in and trying to memorise one
or two pages each day (like his friends
who gave up before long), he confined
himself to learning 5 lines per day.

This worked out to be about 20-30 minutes per day for him.

In order to overcome the initial unfamiliarity with the new verses, he spent the first few minutes each day actually writing out the
5 lines of that day onto a small sheet of paper.

He spent the next few minutes reciting
them over and over, and then attempted to memorise them.

As Ahmed went about his day, he often
found that he had a few chunks of time – several minutes each. During these times, such as waiting for the bus, or waiting for a teacher to turn up to a class, Ahmed would try to remember the 5 lines from that morning.

To aid his memory, he kept the sheet
that he wrote out that morning folded
in his pocket, and would pull it out if he
was struggling.

To further support his memory, every
prayer he prayed that day, he would
recite the same 5 verses of Quran that
he learned that morning. In each raka',
he would alternate between the 5 lines from that day, and the 5 lines he learned the day before. And remember...

With the Uthmani script of the Quran,
there are exactly 15 lines per page.
So, by the end of the week, Ahmed
had not only memorised 2 whole pages
of the Quran, but he had written them
out in full, too... a very blessed act if
ever there was one.

On the weekend, Ahmed would visit a
local scholar of Quran recitation, and
would revise with him the 2 pages he
had just memorised, and have a go at
the 2 pages he would be working on the
following week. This way, he was certain to learn the Quran with accurate tajweed and beautiful recitation.

There was one other secret to Ahmed's
success.

Once a week, on a weekend evening
(usually on a Friday night), Ahmed
would wake up in the middle of the
night, and pray Tahajjud. During his
special Tahajjud prayer, Ahmed would recite the whole two pages he had learned that week, and consolidate them.

At this point, the Shaykh mentioned
that perhaps one of the reasons so
few people manage to wake up and
do this special prayer, which is highly recommended by the Quran and by our beloved Prophet (saw), is that we don't have anything to recite.

We have so little Quran memorised
that there's no fun or enjoyment in
the challenge of waking up for Tahajjud.

You can imagine Ahmed's excitement
and feeling of achievement and success
3 months after he started, when he had memorised the entire 1st Juz!

It's not just the feeling of success and
empowerment that Quran gave him,
but also the deep connection with Allah (SWT) he felt every single day.

You can only imagine how proud he must have felt of himself, when upon graduation Ahmed not only received a 1st class degree in engineering (he was 3rd in his
class), but he had also officially memorised the entire Quran.

Shaykh Zakariya pointed out a final
lesson from this blessed brother.

The biggest achievement he made was not to memorise the Quran. The biggest
achievement he made was to be deeply connected with the Quran every single day for 5 years.

That connection with Allah (SWT)
is what made Ahmed so special. That
deep link with the Creator is what
keeps life in perspective and is what
helped Ahmed to keep on track with
the little weekly targets he set for
himself.

One can only imagine what happened
to Ahmed's levels of personal fulfillment, iman and taqwa, as he went back every single day to develop this ritual of ihsan (spiritual excellence). Each day he woke up for Fajr and wrote out another 5 lines of Quran, his self-esteem and self-confidence soared...

www.quranforbusypeople.com

Kembali bernyawa


Setelah menyepi sekian lamanya, kini semangat itu kembali membara, diserlahkan di alam maya, moga ianya dapat dimanfaatkan bersama, semoga semangat ini bukan untuk seketika.


Wednesday, December 28

sifat mukmin


Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap orang mukmin yang ingin menjadi para daie yang istiqamah perlulah mewarisi sifat para Nabi dan Rasul iaitu siddiq, amanah, tablig dan fatanah. Walaupun mungkin sebagai manusia biasa kita tidak mampu mewarisi sepenuhnya sifat-sifat yang mulia ini kerana para Nabi dan Rasul bersifat maksum, tetapi sebagai asas akhlak yang mulia perlulah empat sifat ini menjadi pakaian dan perhiasan untuk para daie yang mukmin, yang berhasrat menjadi pewaris para nabi untuk menegakkan risalah Allah S.W.T.

Perwatakan seorang mukmin mestilah dihiasi dengan sifat ikhlas, murah hati, merendah diri dan benar, berhemah tinggi dan sederhana juga diharumi dengan sifat mengasihi dan menyayangi serta sentiasa mengalirkan kegembiraan dalam perhubungan, menjadikan akhlaknya sentiasa menjadi ikutan masyarakat.

Dalam dirinya tercantum segala sifat-sifat mahmudah yang sejati. Pada waktu siangnya bekerja keras untuk mencari nafkah untuk keluarga dan pada masa yang sama menyampaikan mesej dakwah dan tarbiah kepada masyarakat. Di waktu malamnya solat tahajud, berdoa dan bermunajat sehingga menitiskan air mata penyesalan mengadap Tuhan Rabbul Jalil.

Sahabat yang dikasihi,
Di sini akan difokuskan kepada empat sifat dasar yang merupakan sifat yang perlu ada pada setiap orang mukmin yang menjadi pemimpin umat. Sifat-sifat tersebut adalah siddiq, amanah, fatanah dan tabligh. Apabila sifat sifat ini lahir dalam kehidupan maka ianya akan menjadi contoh kepada umat Islam lain yang mengharapkan keredaan Allah S.W.T.

Sifat-sifat tersebuat adalah seperti berikut :

Pertama : Siddiq (Benar)

Seorang mukmin harus memiliki sifat benar tidak ada sepatah pun perkataannya yang mengandungi kebatilan, dalam apa sahaja keadaan dan suasana. Sifat siddiq adalah asas kemuliaan, lambang ketinggian, tanda kesempurnaan dan gambaran dari tingkah perlakuan yang bersih dan suci.

Sifat inilah juga yang menjamin dapat mengembalikan hak-hak kepada yang berhak, memperkukuh ikatan antara anggota masyarakat, tidak terkecuali samada dia itu seorang alim, atau seorang yang berkuasa atau seorang saudagar, samada laki-laki atau perempuan, dewasa ataupun kanak –kanak, selama mereka hidup dalam satu masyarakat yang saling perlu memerlukan antara seorang dengan yang lain.

Sifat siddiq (benar) adalah inti sari daripada kebaikan. Sifat inilah yang dimiliki sahabat yang paling disayangi Rasulullah SAW iaitu Abu Bakar as -Siddiq.
DariAbdullah bin Masud, Nabi S.A.W. bersabda bermaksud :
"Sesungguhnya siddiq (benar) itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada syurga. Seseorang berperi laku siddiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang siddiq. Pendustaan pula akan membawa kepada keburukan,dan keburukan akan menghantarkan pada neraka. Seseorang berperi laku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta."
(Hadis Riwayat Bukhari)

Firman Allah S.W.T. yang bermaksud :
"Sesungguhnya lelaki dan perempuan yang Muslim, lelaki dan perempuan yang mukmin, lelaki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, lelaki dan perempuan yang benar, lelaki dan perempuan yang sabar, lelaki dan perempuan yang bersedekah, lelaki dan perempuan yang berpuasa, lelaki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, lelaki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan ganjaran yang besar."(Surahal-Ahzab ayat 35).

Selain mendapatkan keampunan dan ganjaran yang besar dari Allah, golongan siddiqin juga akan mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah di akhirat. Mereka akan disatukan bersama nabi, orang syahid, serta salihin.
Seorang mukmin akan sentiasa berkata benar tidak berbohong, mungkir janji dan lidahnya tidak suka mengumpat dan memfitah orang lain walaupun terhadap orang fasik yang menghina dan menyerang peribadinya. Setiap nasihat dan tunjuk ajarnya membuatkan seseorang tertarik untuk mendekatkan diri dengan Islam kerana tuturkata yang lemah lembut dan penuh hikmah.

Kedua : Amanah

Amanah ialah sifat mulia yang pasti dipunyai oleh setiap orang dalam menghadapi perjuangan hidup demi untuk mencapai cita cita yang diazamkan. Suatu masyarakat itu tidak akan dapat dibina dengan harmoni melainkan hanya di atas asas yang kukuh dan tetap, antaranya asas amanah. Dengan jelas kita dapat menyaksikan perbezaan antara dua jenis manusia pertama yang amanah atau al amin dan kedua yang khianat atau al-Khain. Orang yang amanah akan menjadi tempat kepercayaan dan penghormatan orang ramai, sebaliknya orang khianat itu pula menjadi tumpuan kemarahan dan kehinaan.

Sifat seorang mukmin yang amanah akan melaksanakan tugas dengan bersungguh-sungguh dan penuh bertanggungjawab. Dia tidak akan 'curi tulang', tidak akan mengambil rasuah dan tidak akan melaksanakan tugas sambil lewa sahaja. Dia merasai tanggungjawab dihadapan Allah S.W.T. jika di dunia diabaikan amanah yang diberikan kepadanya.

Jika sifat amanah ini dimiliki oleh para pemimpin kita, para ulama , guru-guru, pegawai atasan dan ahli perniagaan maka kita akan dapati negara akan berkembang maju dan kekayaan negara akan dapat di manfaatkan sepenuhnya untuk rakyat dan keseluruhan rakyat umumnya akan mempunyai akhlak yang baik. Oleh kerana sifat amanah suduh hilang atau berkurangan maka kesan daripadanya menyebabkan hutang negara bertambah kerana membazirkan wang negara untuk menyelamatkan syarikat-syarikat kroni yang bangkrap akibatnya negara terpaksa menanggung hutang yang besar. Selain daripada itu kesan sifat tidak amanah ini juga maka kadar jenayah semakin meningkat kerana tidak ada amanah diperingkat penguasaan undang-undang.

Daripada Ibnu Umar r.a., katanya, saya mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya :
"Setiap orang daripada kamu adalah penggembala dan setiap seorang dari kamu akan ditanya perihal penggembalaannya. Pemimpin adalah penggembala dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang lelaki adalah penggembala dalam keluarganya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala dalam rumah suaminya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Buruh adalah penggembala dalam harta majikannya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Jadi setiap seorang dari engkau semua itu adalah penggembala dan tentu akan ditanya perihal penggembalaannya. "
(Hadis Riwayat Muttafaq 'alaih)

Ketiga : Tabligh

Tabligh atau sifat menyampaikan dakwah dan Islam kepada masyarakat adalah satu sifat atau tugas yang diamanahkan oleh Allah S.W.T.

Firman Allah dalam surah Al Maidah ayat 67 yang bermaksud : ”Wahai Rasulullah, Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan jika engkau tidak melakukannya(dengan menyampaikan kesemuanya) maka bermakna tiadalah engkau menyampaikan perutusanNya. ”

Walaupun ayat ini arahan Allah S.W.T kepada Rasulullah S.A.W. sebagai Rasul pilihan-Nya untuk menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah S.W.T., tetapi sebagai hamba Allah S.W.T. dan umat Nabi S.A.W. kita juga berkawajipan untuk menyambung perjuangan Nabi S.A.W. iaitu berdakwah dan menyampaikan risalah Allah S.W.T. yang dilaksanakan oleh baginda kepada umat manusia seluruhnya.


Firman Allah yang bermaksud: “Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang yang berjaya.” (Surah Ali-Imran ayat Ayat 104)

Kewajipan berdakwah adalah tanggungjawab besar yang menjadi tonggak utama agama dan tiang seri atau paksi menegakkan binaan Islam, menyempurnakan segala peraturan serta mengangkat martabat Islam hingga ke puncaknya.

Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud: “Sesiapa daripada kalangan kamu yang melihat kemungkaran, maka dia hendaklah mengubah dengan tangannya; jika dia tidak mampu berbuat demikian, maka hendaklah dia mengubahnya dengan lidahnya; dan sekiranya dia tidak mampu juga, maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” (Hadis riwayat Muslim)
Berdakwah kepada Allah adalah amalan kebaikan diperintahkan supaya hamba-Nya sentiasa berdoa untuk mendapat keredaan Allah.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya, Allah tidak mengurangkan sedikit pun pahala daripadanya. Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia akan berdosa seperti mana dosa orang yang melakukannya, Allah tidak akan mengurangkan sedikit pun dosa itu daripadanya.” (Hadis riwayat Muslim)


Keempat : Fathanah (Kebijaksana dan cergas)

Sifat keempat ialah fathanah(bijaksana dan cerdas). Sifat ini adalah sifat penting yang perlu ada pada seorang mukmin yang bertugas menyampaikan dakwah kepada masyarakat, kerana sifat fatanah akan menyempurnakan sifat tabligh. Seseorang pendakwah yang terlibat secara lansung akan selalu terlibat dalam perbincanagan dengan musuh, menghadapi pertanyaan daripada ahli jemaah, serangan serta kritikan orang yang masih meragukan. Seorang yang memiliki sifat fatanah ini cukup faham keadaan mereka yang ingin didakwahkan dan mengambil pendekatan lemah lembut dan penuh hikmah. Dia juga berkemampuan untuk memahami isu-isu semasa, memahami kekuatan dan kelemahan orang yang ingin di dakwahkan dan mengambil pendekatan yang bijak supaya dapat mengelakkan fitnah dan penghinaan kepada Islam.

Kita dapati ada dikalangan para pendakwah yang cuba menyampaikan Islam dengan cara yang keras dan kurang hikmah hingga menyebabkan orang yang bukan Islam menganggap Islam itu ekstrim dan agama yang tidak ada toleransi. Ada setengahnya pula menyerang peribadi-peribadi tertentu untuk menjadi bahan ketawa. Perlulah diingatkan cara berdakwah yang berkesan adalah tidak mendedakkan keaiban seseorang dan berdakwah dengan cara lemah lembut dan penuh hikmah kerana inilah cara dakwah Rasulullah S.A.W. , betapa ramai orang kafir yang memusuhi Nabi S.A.W. tetapi akhirnya memeluk Islam keranamelihat ketinggian akhlak dan peribadai baginda.

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah kita sama-sama mendidik diri kita menjadi seorang mukmin yang memiliki sifat siddiq, amanah, tabliq dan fatanah. Sifat yang mulia ini adalah sifat yang wajib dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Jika kita mempunyai sifat-sifat yang mulia ini barulah kita layak mendapat syafaat Rasulullah S.A.W dan termasuk dikalangan hamba yang dirahmati Allah S.W.T. dan akan layak memasuki syurga-Nya.

Friday, October 28

~baik sangka~sebuah kisah~

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hassan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang wanita. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Lalu Hassan berbisik 'Alangkah jahatnya orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!'

Tiba-tiba Hassan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas. Enam dari tujuh penumpang itu berjaya diselamatkan. Kemudian dia berpaling ke arah Hassan al-Basri dan berkata, "Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang."

Bagaimanapun Hassan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu bertanya padanya. "Tuan, sebenarnya wanita yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan arak. Ini hanya untuk menguji tuan."

Hassan al-Basri terpegun lalu berkata, "Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan."

Orang itu menjawab, "Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan."
Semenjak itu, Hassan al-Basri selalu merendahkan diri bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih dari orang lain.

Pengajarannya :

Pertama : Jangan berburuk sangka dengan orang lain serta memandang rendah padanya. Apabila kita melihat orang lain membuat maksiat kepada Allah jangan menghinanya atau redha dengan perbuatannya dan cuba mencari aibnya. Mungkin orang itu jahil tentang perbuatannya.Untuk diri kita pula, kita patut malu pada diri sendiri yang dikurniakan oleh Allah ilmu ini masih juga melakukan perbuatan yang dilarang.

Kedua : Perkara yang patut kita ingat tentang diri kita ialah perbuatan baik orang pada kita dan perbuatan jahat kita pada orang lain. Perkara yang patut kita lupakan ialah kebaikan kita pada orang dan kejahatan orang pada kita.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Sesungguhnya orang-orang yang percaya pada keterangan Kami, ialah orang yang apabila dibaca ayat-ayat itu kepada mereka, mereka sujud, tasbih memuji Tuhan dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka meninggalkan tempat tidurnya menyeru Tuhannya dengan perasaan penuh kecemasan dan pengharapan dan mereka membelanjakan (di jalan kebaikan) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"
(Surah as-Sajadah ayat 15-16)

Wednesday, August 17

~persahabatan~

Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Permusuhan dan dendam kesumat di antara Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam sudah termaktub di dalam al-Quran, seperti firman Allah SWT maksudnya : "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).' Dan jika engkau mengikuti keingunan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu perlindungan dari Allah." (Suran al-Baqarah ayat 120)

Asbabun Nuzul ayat 120 surah al-Baqarah.
Ibnu Abbas r.a. menjelaskan, bahawa kaum Yahudi Madinah dan Nasrani Najran mengharapkan agar Rasulullah SAW solat menghadap ke kiblat mereka . Terwujudnya harapan ini semakin kecil saat Allah mengubah kiblat kaum muslimin ke arah Kaabah. Akhirnya mereka putus asa untuk membuat Rasul memeluk agama mereka. Maka itu turunlah ayat ini (Hadis Riwayat Tsa'lab lihat Ibnu Katsir)

Apabila umat Islam berpecah belah dan bermusuhan sesama sendiri maka orang-orang kafir (Yahudi dan Nasrani) yang berdendam dengan umat Islam akan mengambil kesempatan dengan menguasai negara-negara umat Islam seperti di Iraq dan Afghinastan. Mereka berusaha pula untuk menguasai Libya dan Pakistan.

Umat Islam yang mengasihi saudaranya yang lain tidak akan dapat menerima tentera bersekutu mengebom dan membunuh umat Islam di Libya yang tidak berdosa. Walaupun kita tidak bersetuju dengan kezaliman pemimpin Libya membunuh rakyatnya sendiri pada masa yang sama kita juga tidak bersetuju orang asing mencampuri urusan negara Islam yang lain. Matlamat dan cita-cita mereka adalah untuk menguasai Libya sama seperti Iraq dan Afginistan yang telah mereka kuasai. Mereka sebenarnya bertujuan untuk menguasai telaga minyak dan menjamin kekuatan Zionis laknatullah tidak tergugat setelah kejatuhan boneka mereka di Masir dan Tunisia.

Umat Islam adalah saudara satu sama lain karena ikatan akidah, syari’ah, dan akhlak yang sama, yakni akidah yang sama akan melahirkan ukhuwah Islamiyah. Firman Allah SWT maksudnya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat petunjuk."
(Surah al-Hujurat ayat 10).
Persaudaraan yang terjalin sesama muslim akan melahirkan sayang-menyayangi satu sama lain. Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Sesama orang mukmin itu bagaikan satu bangunan yang saling meguatkan" (Hadis Riwayat Bukhari).

Nabi SAW bersabda maksudnya : “Tidak beriman seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihinya, sayang-menyayanginya, dan santun-menyantuninya, bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit maka menderita pula keseluruhan tubuh..." (Hadis Riwayat Muslim).

"Orang Muslim ialah yang menyelamatkan kaum muslim dari (kejahatan) lisannya dan tangannya. Dan muhajir itu ialah siapa yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah" (Hadis Riwayat Muslim).

“Ada lima kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya: menjawab salam, memenuhi undangan, mengantarkan jenazah, mengunjungi ketika sakit, bertasymit ketika bersih membaca hamdalah” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Contoh ideal pelaksanaan kasih-sayang sesama muslim adalah ketika kaum Anshar di Madinah menolong dan menyayangi kaum Muhajirin Makkah. Mereka memperlihatkan idealisme sebuah ukhuwah Islamiyah. Betapa kesatuan akidah Islam menjalinkan kesatuan hati dan jiwa umat, melahirkan ikatan persaudaraan yang erat dan mesra.

Persaudaran yang terjalin oleh rasa kasih-sayang yang lahir semata-mata kerana Allah telah mendapat pengikhtirafan Allah SWT seperti firman-Nya yang bermaksud : "Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surah al-Hasyr ayat 9)

Sahabat yang dimuliakan,
Terhadap orang kafir yang tidak memerangi umat Islam atau hidup berdampingan secara damai, umat Islam dilarang menyakiti atau menzalimi mereka. Itulah sebabnya, dalam Islam ada istilah toleransi. Umat Islam diharuskan menghormati keyakinan mereka dan tidak boleh memaksa mereka untuk masuk Islam.

Firman Allah SWT maksudnya : "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbezaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat." (Surah al-Baqarah ayat 256)

Islam menjamin kebebasan beragama dan mereka dibenarkan dan bebas menganut agama mereka masing-masing. Firman Allah SWT maksudnya : “Katakanlah: Hai orang-orag kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (Surah al-Kafirun ayat 1-6).

Umat Islam perlulah kembali kepada al-Quran dan as-sunnah kerana hanya dengan ini sajalah mereka akan terselamat daripada perpecahan dan persengkitaan. Apabial umat Islam mengambil jalan-jalan lain, peraturan lain dan cara hidup yang lain maka umat Islam akan menyempang jauh daripada rahmat Allah SWT.

Jika umat Islam hannya suka fitnah memfitnah, mengaibkan saudaranya yang lain, mengadu domba, mengumpat dan menyebukkan diri dengan vedio lucah dan perkara negatif maka umat Islam akan mendapat kehinaan dan agama lain akan memendang rendah dengan kesucian Islam dan akan menjauhkan mereka dengan kebenaran yang terdapat dalam Islam.

Ingatlah jika seseorang yang membuka satu jalan kemungkaran dan orang lain mengikutnya maka dosa orang yang mengikutnya hingga kehari kiamat akan ditanggung oleh orang yang membuka jalan maksiat tersebut. Jika vedio lucah yang dirakamkan oleh seseorang dan gambar tersebut terus menerus ditonton oleh manusia seluruh dunia dan berjalan hingga masa yang panjang maka orang yang membuat vedoa tersebut termasuk 'rakan-rakannya' akan mendapat dosa besar yang berterusan.nauzubillahiminzalik!

Persatuan merupakan unsur paling mendasar untuk merealisasikan cita-cita sebuah umat atau bangsa. Oleh sebab itu, salah satu janji Allah SWT dengan para Rasul-Nya adalah menciptakan persatuan di tengah masyarakat. Kitab suci al-Quran sangat menekankan pentingnya masalah persatuan dan menawarkan berbagai cara untuk mewujudkan dan memelihara persatuan umat. Al-Quran menarik perhatian manusia pada sisi persamaan dan menyeru mereka untuk bersatu dalam persamaan tersebut.

Ayat-ayat suci al-Quran mengingatkan bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah dan dari ayah-ibu yang sama. Kemuliaan insani juga milik seluruh manusia, sementara warna kulit, suku dan keistimewaan-keistimewaan lain tidak punya peran dalam kemuliaan manusia.

Kitab suci al-Quran dalam ayatnya yang lugas tentang persatuan, mengajak seluruh umat Islam untuk berpegang pada tali Allah SWT dan menjauhi perpecahan. Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah SWT berfirman maksudnya : "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."

Menurut para ahli tafsir, manifestasi tali Allah yang paling utama adalah al-Quran itu sendiri, sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi SAW yang menyebut al-Quran sebagai tali Allah yang memanjang dari langit ke bumi. Selain itu, kitab langit ini juga meminta umat Islam untuk kembali kepada Allah SWT dalam setiap perselisihan dan pertentangan.

Al-Quran menilai perpecahan bersumber dari sifat sombong dan hasad dengki antara sesama muslim. Kitab suci ini juga mengingatkan bahawa orang-orang terdahulu gagal mencapai tujuan-tujuan luhur kerana memiliki sifat-sifat tersebut. Kitab pedoman umat Islam ini menilai persatuan hati di antara umat manusia sebagai sebuah nikmat Allah SWT. Melalui karunia ini, Dia membimbing manusia kepada kehidupan bahagia.

Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita bersatu hati dan membina ikatan ukhwah Islamiah dan silaturahim. Perpecahan akan membawa kita kepada kemurkaan Allah SWT. Segala rahmat, keberkatan dan kasih sayang Allah hanya diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bersatu hati dan membina ikatan kasih sayang kerana Allah SWT. Imam Hasan al-Banna berkata : "Tidak ada iman tanpa ukhwah dan tak ada ukhwah tanpa iman."
Nabi SAW bersabda maksudnya :"Berjemaah itu dirahmati, sedangkan berpecah belah itu mengundang azab." (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad)

Laut dan Dakwah – Sebuah Refleksi Jiwa

Salam sejahtera dan salam rasa dari hati… Gambar ini gambar pantai, tapi hati ini tergerak nak bercerita tentang laut. Laut yang tena...