Berani menegakkan keadilan, walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.
Sunday, July 31
~marah~
Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, kerana marah adalah salah satu tabiat manusia. maka agama tidak melarang marah, tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pema’af.
Fiirman Allah s.w.t yang bermaksud : “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”
(Surah Al-A'raaf ayat 199)
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : "Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)"
(Hadis Riwayat Baihaqi)
Sabda Nabi s.a.w. lagi yang bermaksud : "Tiada seorang pun yang meneguk satu tegukan yang lebih agung pahalanya daripada tegukan berupa kemarahan yang ditahannya semata-mata mengharapkan keredhaan Allah Taala."
(Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “Empat hal, barangsiapa yang mampu mengendalikannya maka Allah akan menjaga dari syaitan dan diharamkan dari Neraka : iaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.”
Setiap Muslim harus marah manakala kemuliaan Islam dihina, contohnya apabila penghinaan terhadap baginda Rasulullah s.a.w. yang dilakukan oleh orang-orang yang anti Islam.
Sedangkan kita dituntut untuk dapat mengendalikan marah sekaligus mema’afkan orang lain ketika penyebab marahnya tertuju kepada diri secara peribadi, contohnya ketika jasa seorang suami kurang dihargai isterinya maka suami tersebut hendaklah bertenang jangan cepat merasa marah.
Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya : "Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meredhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meredhai "
(Hadis Riwayat Ahmad).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w. : “Berilah saya nasihat.” Baginga s.a.w.bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan baginda tetap menjawab, “Jangan marah.”
(Hadis Riwayat Bukhari)
Sahabat yang dimuliakan,
Kemarahan adalah bara api yang ditanamkan syaitan ke dalam hati manusia, sehingga secara fizikal, kita pun dapat melihat tanda-tanda kemarahan, seperti mata menjadi merah, urat lehernya menegang, tangan gemetar sampai mengeluarkan sumpah serapah. Jika tidak dapat mengendalikan marah, maka manusia akan kehilangan akal yang sihat.
Imam Ja'far Ash-Shadiq memberikan nasihat, iaitu "Hindarilah marah, kerana hal itu akan menyebabkan kamu tercela."
Kemarahan dapat merusak keseimbangan emosi dan merusak kesihatan jasmani. Orang yang pemarah, biasanya mengalami gejala seperti sakit punggung akibat stress, susah tidur, sakit perut, degupan jantung meningkat melebihi batas.
Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah s.a.w.dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang boleh mendekatkan saya ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka.” Maka baginda s.a.w.bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Nescaya Syurga akan kau dapatkan.” (Hadis Sahih Riwayat Thorani)
Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi s.a.w., "Berilah aku wasiat?." Nabi s.a.w. bersabda: : "Janganlah engkau marah" Orang tersebut mengulangi permintaannya hingga beberapa kali, sedang Nabi s.a.w. bersabda : " Janganlah engkau marah"
(Hadis Riwayat Bukhari).
Maka menahan marah merupakan suatu hal yang harus kita latih agar mendapatkan kenikmatan di Syurga kelak.
Terdapat lima pekara untuk mengatasi perasaan marah. Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :
1. Membaca Ta'awwudz. (memohon perlindungan Allah s.w.t daripada gangguan syaitan)
Sulaiman Ibnu Sard meriwayatkan, pernah dua orang saling mencerca satu sama lainnya di hadapan Rasulullah s.a.w.. Sementara itu, kami sedang duduk di sisinya. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya dengan marah, hingga merah mukanya. Maka Rasulullah s.a.w.bersabda maksudnya : "Aku mengetahui suatu kalimat, jika diucapkan olehnya (laki-laki yang merah mukanya), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata: A’udzubillahi minasy syaithanir rajim (maksudnya 'aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).
( Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Berwudhu' .
Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : " Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syaitan. Dan syaitan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhu'lah. (Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Daud, hadis ini hasan.)
3. Duduk.
Dalam sebuah hadis Nabi s.a.w bersabda maksudnya : "Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah"(Hadis Riwayat Abu Dawud).
Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : "Jika salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring.
( Hadis Riwayat Ahmad )
Hal ini kerana marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan keburukan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.
4. Diam.
Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : "Jika engkau marah, maka diamlah. Jika engkau marah, maka diamlah.
(Hadis Riwayat Ahmad ) .
Banyak berbicara dalam keadaan marah tidak boleh mengawal perasaan sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain.
Dalam hadis disebutkan :“Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Baginda s.a.w. ucapkan tiga kali."
(Hadis Riwayat.Ahmad)
5. Bersujud (maksudnya solat sunat dua rekaat)
Nabi s.a.w bersanda maksudnya : "Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia meletakkan pipinya dengan tanah (sujud)."
(Hadis Riwayat Tirmidzi)
Sahabat yang dirahmati Allah,
Marah adalah salah satu sifat mazmumah yang harus di jauhi supaya kita tidak termasuk dikalangan orang yang memilikmi sifat tercela.. Sesiapa yang tidak dapat mengawal perasaan marah sebenarnya ia sedang dikuasi oleh hawa nafsu. Banyak keadaan marah boleh mendatangkan perkara buruk. Apabila seseorang itu marah, ia dibantu oleh syaitan. Syaitan adalah musuh utama manusia yang berjanji kepada Allah untuk menggoda dan memesongkan anak cucu Adam.
Walaupun perasaan marah itu banyak dihasut oleh syaitan, ada waktunya perasaan itu boleh diredakan dengan kita mengalihkan pemikiran kita kepada Allah yang sentiasa melihat kita dan apa yang kita lakukan.
Ingatlah, Allah tidak menyukai hamba-Nya berakhlak buruk, apatah lagi kesan dari akhlak buruk itu boleh mendatangkan perkara tidak baik. Amalkanlah lima perkara di atas merupakan kaedah untuk mengatasi perasaan marah yang tidak dapat dikawal. Sesungguhnya apabila kita menjauhkan diri daripada mengamalkan sikap marah atau orang yang suka marah, kita sebenarnya menjauhkan diri daripada kemurkaan Allah s.w.t dan menjadi hamba yang diredhai-Nya.
Tuesday, July 26
Renungan Bulan Ramadhan oleh Imam As-Syahid Hassan Al-Banna

Hadith Tsulasa*’: Renungan tentang Bulan Ramadhan oleh Imam As-Syahid Hassan Al-Banna
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan selawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa sahaja yang menghidupkan & meneruskan perjuangan dakwahnya hingga hari kiamat.
Saudara & saudari yang mulia. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah, assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Pada malam ini, yang merupakan akhir bulan Sya’ban, kita hentikan slot kajian kita tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kitab Allah swt. Insya Allah, pada sepuluh malam yang pertama bulan Syawal, kita kembali kepada tema tersebut. Setelah itu kita akan membuka slot baru dari ceramah-ceramah Ikhwan, yang temanya insya Allah: Kajian-Kajian tentang Sirah Nabi dan Tarikh Islam.
Ramadhan adalah bulan ruhi, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafus-soleh mengucapkan selamat tinggal sesame mereka & bertemu semula ketika solat hari raya. Kerena mereka rasakan ini adalah bulan untuk menggandakan ibadah, bulan untuk melaksanakan puasa dan qiyam dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.
Saudara & saudari sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk meneruskan pengajian Selasa ini pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apatahlagi, ramai di antara kita yang melaksanakan solat tarawih dan memanjangkannya, serta mengejar & mengambil pelunag untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun.
Nabi saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw dipanggil menghadap kepada Ar-afiq Al-A’la (Allah swt.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.
Saudara & saudari sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya, “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafa’at untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat. ” (HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)
Wahai saudara & saudari, dalam diri saya terdetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Kerana kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.
Saudara & saudari sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu kesannya yang paling terasa adalah wujudnya pertemuan ini kerana Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam satu tempoh masa, maka bukan bererti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majlis yang baik ini. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita biasa berjumpa kembali setelah masa percutian ini (kuliah selasa malam yang biasa Hassan al Banna sampaikan di’cutikan’ sempena meraikan ramadhan), insyaAllah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan solat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama minggu-minggu tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, iaitu hubungan dengan Allah swt., yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.
Kerana itu, saudara & saudari sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri. “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.”
Ini mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan solat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak solat sebagai hak bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan zikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai hak bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak rnenangis kerana Allah sebagai memberi hak bagi dirinya. Adapun puasa, dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak masa kerana bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan solat tarawih.
Saudara& saudari sekalian, hendaklah sentiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah:185)
Saudara & saudari, pada akhir ayat ini Anda mendapati: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)
Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka mentaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri. “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Al-Baqarah: 185)
Kemudian, lihatlah kesan dari semua ini. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah; 186)
Saudara & saudari, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang sangat istimewa. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda, “Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan akan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!”
Saudara & saudari, pintu-pintu surga dibuka, kerana manusia berlumba-lumba melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat. Syaitan-syaitan dibelenggu, kerana manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga syaitan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq swt., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karnia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. menyebutkannya dalam kitab-Nya.” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (Al-Baqarah: 185)
Ada kaitan antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Kerana puasa ertinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakiki dalam diri manusia. Ini bererti bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam keadaan seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.
Pada kesempatan ini, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt., dalam kalimat-kalimat ringkas.
Saudara & saudari yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah swt. dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada empat:
1. Perbaiki Aqidah
Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia mampu mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahawa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhirat, agar setiap jiwa dihisab tentang apa sahaja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya. Jika kita menamati ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, nescaya kita mendapati bahawa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah,
“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)
Allah swt. juga berfirman dalam surat Al-Mukminun,
“Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Al-Mukminun: 84-90)
Allah swt. juga berfirman “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (Al-Mukminun: 101-103)
Allah swt. juga berfirman,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8)
Allah swt. Berfirman lagi,
“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah: 1-3) Dalam surat lain Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (At-Takatsur: 1-4)
Saudara & saudari, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan pen-jelasan yang jitu yang mampu mengetuk dan melembutkan hati yang keras.
2. Pengaturan Ibadah
Anda juga membaca firman Allah swt. mengenai ibadah. “Dan dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat.” (Al-Baqarah: 43) “…diwajib-kan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (Al-Baqarah: 183) “…mengerjakan haji adalah kewa-jiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali-Imran: 97) Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 10) Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.
3. Pengaturan Akhlak
Mengenai pengaturan akhlak, Anda biasa membaca firman Allah swt.
“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (Asy-Syams: 7-8)
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11)
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 19-24)
Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt. dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras.
“Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (Ar-Ra’d: 25)
Inilah peraturan-peraturan tersebut, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, kerana di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat.
Saudara & saudari tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada kita. Insya Allah kita akan mendapatkan manfaat darinya.
Buat akhirnya, kuntuman salawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.
Tuesday, July 12
persahabatan

Rasulullah S.A.W. pun menyanyakan persediaan makanankepada para isteri baginda. Namun mereka memberitahu, bahawa tidak ada makanan sama sekali.
Lalau baginda S.A.W. berkata kepada para sahabatnya, "Semoga Allah merahmati siap pun di antara kalian yang mahu menjamunya malam ini."
"Demi Allah, makanan ini hanya cukup untuk anak-anak kita," jawab isterinya.
"Jika anak kita lapar, tidurkanlah mereka dan padamkan lampu. Biar kita menahan lapar pada malam ini," pesan sahabat tadi. Isterinya pun melakukan pesan suaminya itu.
Atas peristiwa itu, Allah menurunkan ayat surah al-Hasyr ayat 9. maksudnya : "Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), dan mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang di berikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran (bakhil), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Betapa Allah S.W.T. memberikan kemuliaan kepada sahabat Ansar yang berhati mulia, yang telah dididik oleh Rasulullah S.A.W. sanggup mengutamakan sahabat yang kelaparan dan memerlukan makanan walaupun dia, isteri dan anak-anaknya kelaparan pada malam tersebut.
Sabda Nabi SAW yang bermaksud :
"Barangsiapa menutup rahsia saudaranya, nescaya Allah akan menutup rahsianya di dunia dan akhirat."
(Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Monday, May 30
___________________________________
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap manusia yang sempurna sifatnya telah diciptakan oleh Allah SWT dengan diberikan-Nya akal dan nafsu. Akal akan berfikir dan menilai segala kebenaran yang di turunkan oleh Allah SWT melalui ar-RasulMuhammad SAW lalu mengimani dan meyakini di dalam hatinya. Manakala nafsu yang suka mendorong kepada keburukan perlu diawasi dan ditundukkan dibawah telunjuk iman dan akal fikiran yang waras.
Bersabar di dalam konteks amalan hati ialah menahan nafsu daripada dipengaruhi oleh sebarang gelora atau kegemparan hati atau perasaan atau rangsangan yang menimbulkan rasa marah atau memberontak, resah gelisah, tidak rela, sugul, kecewa atau putus asa, akibat daripada pengalaman kesusahan, ketidak selesaan atau sesuatu keadaan yang tidak disukai atau diingini. Kesabaran itu harus meliputi empat tindakan iaitu :
1. Tabah dan tekun di dalam melakukan taat
2. Menahan diri daripada melakukan maksiat atau kemungkaran
3. Memelihara diri dari godaan dunia, nafsu dan syaitan.
4. Tenang atau teguh hati menghadapi cobaan musibah
Sabar adalah satu tuntutan agama dan satu perisai untuk menahan diri daripada fitnah nafsu yang bergelora. Orang yang gagal bersabar akan gagal di dalam hidup dan akan rugi di dunia dan akhirat. Antara tujuan kita di suruh bersabar itu ialah:
1) Supaya dapat mengerjakan ibadah dengan tenteram dan dapat kesempurnaan dan seterusnya mencapai matlamatnya.
2) Untuk kita berfikir dengan lebih matang. Apabila nafsu telah menguasai akal, akal tidak dapat berfikir secara rasional di dalam menghadapi tindakan yang akan dilakukan. Segala yang dilakukan itu hanya betul mengikut ukuran nafsu. Akibatnya apabila terjadi kerusakan atau kecelakaan disebabkan tindakan itu, diri manusia sudah tidak dapat mengelak, jadilah manusia itu terbelenggu disebabkan perbuatannya sendiri. Kerana itu di dalam menangani nafsu yang bergelora, sabar itu sangat perlu. Di samping kita disuruh untuk bermujahadah (berperang) dengan nafsu yang jahat.
Sabda Rasulullah SAW maksudnya : "Sejahat-jahat musuh kamu iaitu nafsu yang di antara dua lambungmu." (Hadis Riwayat Tarmidzi)
Selain daripada itu, sifat takwa perlu diusahakan dengan menanamkan iman di dalam diri. Untuk mendapatkan sifat takwa, kelemahan diri perlu diperbaiki. Bagi mereka yang berusaha memperbaiki dirinya, hati mereka akan sentiasa tenang dan bahagia. Bukan kerana kaya atau berada, tetapi kerana puas kepada apa yang ada.
“Dari Anas bin Malik RA, bersabda Rasulullah SAW: “Tiga perkara apabila terdapat pada diri seseorang, ia merasai kemanisan iman: Siapa yang cintanya kepada Allah dan Rasul lebih dari cintanya kepada yang lain; siapa yang cintanya kepada orang lain hanya kerana Allah (dan bukan kerana suatu tujuan duniawi); dan ia membenci kembali kepada kekufuran selepas Allah menyelamatkannya (dari kekufuran), sebagaimana bencinya akan dicampakkan ke dalam api.”(Hadis Riwayat Muslim)
Di samping itu apabila orang yang memiliki iman, sembahyangnya akan kusyuk, mereka menyempurnakan puasa dan menunaikan pembayaran zakat dengan segala adab dan tuntutannya, menunaikan Haji dengan memahami segala tujuan dan tuntutannya, menjauhkan diri dari maksiat dan dosa, menjauhi perbuatan zina dan perkara yang menghampirinya, tidak mengumpat, mengadu domba, menfitnah, tidak hasad dengki, tidak sombong, tidak ujub dan sum'ah (mencari nama dan pangkat), tidak pendendam dan lain-lain.
Bila dapat kemanisan iman. penderitaan menjadi kecil dan dunia tiada ruang di dalam hatinya. Hatinya akan asyik dengan Allah. Ini berlaku pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW contoh Sayyidina Bilal apabila dijemur di tengah panas serta diazab untuk dipaksa kembali kepada kekufuran, dengan tenang dia menjawab, "Ahad, Ahad." Azab sengsara, tidak terasa dan mampu dihadapinya dengan tenang.
Ini juga berlaku kepada seorang sahabat Nabi SAW yang dicuri untanya ketika sedang bersembahyang, dia tidak menghentikan sembahyangnya itu. Kerana terasa kemanisan sembahyang dan tidak sedar apa yang berlaku di sekelilingnya. Banyak lagi hal-hal yang sedemikian yang boleh kita baca di dalam sejarah kehidupan para sahabat RasulullahSAW.
Kerana itu kita perlu melakukan Mujahadatun Nafs (melawan hawa nafsu) dan membersihkan diri kita daripada sifat-sifat mazmumah ( yang tercela ) seperti iri hati, dengki, dendam, buruk sangka, mementingkan diri, gila pangkat, gila puji, gila dunia, bakhil, sombong dan sebagainya.
Langkah pertama untuk mendapatkan iman ini, maka seseorang itu perlu mempunyai :
Pertama : Ilmu Islam .
Perlu memiliki ilmu Islam yang sempurna dan tepat agar segala tindakan dapat diselaraskan dengan syariat dan kehendak Allah melalui hukum-hukum yang telah ditetapkannya.
Firman Allah SWT maksudnya : “………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (Surah al-Mujadillah ayat 11).
Kedua : Mempunyai keyakinan.
Keyakinan adalah perlu dan penting. Oleh itu wajiblah kita belajar dan berusaha menyuburkan keyakinan kita. Jangan biarkan keyakinan dicelahi oleh keraguan walaupun sedikit. Keraguan mesti dilawan dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan akal semata-mata.
Syaitan dan nafsu sentiasa menyuruh dan mempengaruhi akal untuk ragu-ragu dan mewas-waskan kita. Tanpa ilmu yang benar dan menyeluruh, kita akan terperangkap di dalam perangkap syaitan. Jikalau kita terperangkap di dalam jerat syaitan bagi soal-soal keyakinan, maka hapuslah segala pahala amal dan hapuslah iman. Jikalau terjadi demikian, maka matilah kita sebagai orang yang tidak beriman dan kekal di dalam neraka.
Ketiga : Beramal dengan ilmu yang telah difahami dan diyakini.
Firman Allah SWT. dalam surah Ash-Shaff, ayat 2 – 3 yang bermaksud : "Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak lakukan. Amat besar kebenciannya di sisi Allah, kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya."
Keempat : Bermujahadah.
Bermujahadah melawan nafsu yang mendorong ke arah kejahatan dan menghalang diri dari melakukan maksiat lahir dan batin.
Firman Allah s.w.t yang bermaksud :
"Dan demi jiwa dan penciptaannya yang sempurna, maka Allah mengilhamkan (menunjukkan) jalan kejahatan (fujur) dan jalan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan rugilah orang yang mengotorinya."
(Surah As-Syams ayat 7-10)
Dan Ibnu Abbas berkata “ Takwa itu ialah bermudjahadah pada jalan Allah dengan benar-benar jihad, dan tidak dipengaruhi pada jalan Allah oleh celaan para pencela, dan menegakkan keadilan kerana Allah, walaupun terhadap diri sendiri, ibu dan bapak."
Kelima : Istiqamah beramal.
Istiqamah untuk melakukan amalan ketaatan dan ibadah serta menjauhi kemungkaran secara berterusan.
Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya: "Istiqamahlah kamu semua, dan beruntunglah jika kamu istiqamah." (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Sayyidina Ali bin Abu Talib k.w. berkata: "Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban."
Keenam : Mempunyai guru yang Mursyid yang dapat memimpin dan mendidik diri agar sentiasa taat kepada Allah.
Ketujuh : Selalu berdoa kepada Allah.
Doa adalah senjata orang mukmin kerana jikalau hanya usaha lahir saja dilakukan tanpa mengharapkan bantuan dari Allah, maka ia amat mustahil untuk membuang nafsu yang jahat di dalam jiwa manusia.
Firman Allah SWT yang bermaksud :
"Apabila hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang hal-Ku, maka sesungguhnya Aku hampir. Aku perkenankan do’a orang yang meminta, bila ia meminta kepada-Ku, tetapi hendaklah ia mengikut perintah-Ku, serta beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.”
(Surah Al-Baqarah ayat 186)
3. Kita disuruh bersabar adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Firman Allah :
" Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." - (Surah Ali Imran ayat 146)
" Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas "
(Surah az Zumar ayat 10)
Sahabat yang dikasihi,
Marilah sama-sama kita bersabar dalam menahan gelora nafsu amarah kerana hanya dengan bersabar akan menjadi ubat yang pahit tetapi mujarab di dalam menahan diri daripada nafsu dan godaan dunia. Yakinlah, keberkatan daripada kesabaran itu membawa manfaat kepada kita, sekaligus menolak kemudaratan kepada kita. Sebagai ubat 'kepahitan' hanya sesaat, akan tetapi 'kemanisannya' akan berpanjangan iaitu mendapat balasan syurga.
Tuesday, May 10
tanggungjawab mukmin dalam melaksanakan amanah
Setiap muslim akan dipertanggungjawab terhadap segala amalannya di dunia ini. Jika dia berusaha dan bersungguh-sungguh melaksanakan amanah dan tugas yang dibebankan dibahunya dengan penuh rasa tanggungjawab maka ianya akan meringankan timbangan amal di hari akhirat nanti.
Setiap lelaki muslim dan wanita muslimah mempunyai berbezaan tanggungjawab ketika di dunia ini mengikut bidang dan tugas masing-masing. Kaum lelaki mempunyai tanggungjawab yang lebih berat dan besar berbanding dengan kaum wanita. Dia akan bertanggungjawab kepada isterinya, anak-anaknya, adik perempuannya dan kepada ibu-bapanya.
Amanah adalah satu hak yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang samada tanggungjawab itu milik Allah (hak Allah) mahupun hak manusia (hak insan) baik berupa pekerjaan mahupun perkataan dan pekerjaan hati.
Pengertian amanah bererti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, seperti sesuatu kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul mampu menunaikan tugas dan kewajipannya dengan benar.
Pengertian amanah di dalam Islam cukup luas dan berat untuk pertanggungjawabkan.
Sabda Rasulullah S.A.W. dari riwayat Al-Bukhari yang bererti : " Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pemimpin, ketua atau imam adalah pemimpin dan ia akan diminta tanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan dia akan bertanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Isteri juga dipimpin, dalam mengendalikan rumahtangga suaminya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumahtangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya."
Dari hadis ini jelaslah bahawa tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab, dan tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan tugasnya terhadap masyarakat dan semuanya akan ditanya oleh Allah apakah tanggungjawab kita itu dapat dilaksanakan dengan baik atau tidak.
Sahabat yang dimuliakan,
Terdapat satu kisah yang telah diceritakan oleh Abdullah Ibnu Dinar: " Pada suatu hari, saya berjalan bersama Khalifah Umar Al-Khatab di Mekah, waktu itu saya bertemu dengan seorang budak pengembala kambing yang sedang mengembala kambingnya.
Kemudian Saidina Umar berkata kepada budak pengembala kambing itu : " juallah kambing itu kepadaku "
Budak itu menjawab :" Kambing ini bukan kambingku, tetapi kepunyaan tuanku ".
Kemudian Saidina Umar sekali lagi cuba menawarnya : " Bukankah engkau dapat mengatakan kepada tuan engkau, bahawa satu di antaranya telah dimakan serigala, dan pasti tuan engkau tidak akan mengetahuinya.
" Tidak, saya tidak mahu, " kata budak itu, " Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui ".
Kemudian setelah mendengar yang demikian, menangislah Saidina Umar dan berkata kepada pengiringnya supaya memanggil tuannya, Saidina Umar telah membeli budak itu lalu dibebaskan oleh beliau, dengan berkata : " Sejak hari ini engkau bebas merdeka di dunia dan engkau akan lapang di akhirat ".
Sabda Rasulullah S.A.W. seperti mana yang telah diberitahu oleh Anas bin Malik yang bermaksud : "Tidak sempurna iman seseorang yang tidak dapat dipercayainya. Dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji."
Firman Allah subhanahua ta'ala dalam surah An-Nisa' ayat 58 yang berbunyi :
Maksudnya : " Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil ".
Amanah hendaklah diberikan kepada orang yang benar-benar boleh melaksanakannya, kerana menurut hadis Rsulullah S.A.W. dari riwayat Muslim : " Dari Abu Zar, dia berkata : " Saya berkata " : Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memilih saya. " Rasulullah bersabda " hai Abu Zar engkau seorang yang lemah, sedangkan itu sebagai amanah pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang dapat menunaikan hak kewajipannya dan memenuhi tanggungjawabnya.
Dan perhatikan riwayat hadis dibawah ini :
Yazid bin Abu Sufiyan berkata : Telah berkata kepadaku Abu Bakar r.a. diwaktu beliau mengutusku ke negeri Syam : "Hai Yazid ! sesungguhnya engkau mempunyai kerabat, boleh jadi engkau mengutamakan mereka buat memegang kekuasaannya, dan itulah yang aku khuatirkan atasmu, kerana Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bererti :"Barangsiapa menguasai sesuatu dari urusan kaum muslimin, lalu dia memberi kuasa kepada seseorang atas mereka kerana cintanya, maka laknat Allah menimpa atasnya, Allah tidak diterima daripadanya gantian dan tidak pula tebusan, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka jahannam ". (Hadis Riwayat Al-Hakim)
Sahabat yang dihormati,
Dalam satu hadis Rasulullah s.a.w. digambarkan bahawa kemusnahan akan berlaku sekiranya amanah diberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Hadis tersebut yang bererti : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., bertanya tentang " bilakah terjadi kiamat ". Rasulullah s.a.w. menjawab : yang bermaksud : " Apabila hilang amanah, tunggulah kiamat itu. Orang itu bertanya lagi : Bagaimanakah keadaan itu berlaku ? jawab Rasulullah s.a.w. : " iaitu apabila sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamatnya (kerosakan)."
Untuk memenuhi erti amanah, hendaklah manusia berlumba menunaikan tugasnya dengan tegas dan bersungguh-sungguh serta sebaik-baiknya dalam menyempurnakan satu amanah yang dijunjung tinggi. Islam menyarankan supaya manusia ikhlas bekerja dan suka memperhatikan hak-hak manusia yang diamanahkan kepadanya, tidak memandang ringan tugas yang diamanahkan.
Rasulullah s.a.w. telah menjelaskan, tidak akan berlaku kiamat yang lebih besar dan yang lebih buruk daripada khianat seorang muslim yang diamanahkan memimpin urusan manusia, tetapi kemudian dia mengabaikannya sehingga semua urusan jadi terbiar dan sia-sia. Oleh itu jangan kita menyalahgunakan kedudukan yang diberikan untuk menarik keuntungan peribadi atau keluarga.
Sahabat yang dihormati,
Memang telah sewajarnya bagi pekerja tanpa mengira pangkat mendapat imbuhan kaji sebagai ganjarannya, tetapi berusaha mencari tambahan kaji atau upah dengan jalan penyelewengan seperti rasuah adalah usaha haram dan berdosa besar.
Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :"Barangsiapa yang kami angkat menjadi penguasa (pemerintah) untuk mengerjakan sesuatu, dan kami memberi upah menurut semestinya, maka apa yang dia ambil lebih dari upah yang sepatutnya adalah satu kesalahan "
(Riwayat Abu Daud)
1. Ayahnya.
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia memperbiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik
ke neraka oleh anaknya.
2. Suaminya.
Apabila suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram apabila suami mendiam diri walaupun dia seorang alim seperti solat tidak bertangguh, puasa tidak tinggal maka dia akan turut ditarik oleh isterinya. Suami mengabaikan tanggungjawab memberi nafkah zahir dan batin kepada isterinya adalah satu kesalahan dan dosa yang mana isteri boleh menuntut haknya di hari akhirat.
3. Abang-abangnya.
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya. Jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran Islam, tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.
4. Anak lelakinya.
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yg haram dari ajaran Islam, bila ibu membuat kemungkaran pengumpat , mendedahkan aurat dan membuat maksiat sebagainya maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak. Nantikan tarikan ibunya ke neraka.
Oleh itu marilah sama-sama kita tunaikan amanah yang diberikan kepada kita dengan penuh tanggungjawab dan istiqamah, kerana sesungguhnya 'amanah' yang laksanakan dengan sempurna nanti akan menunggu kita ditepi 'Titian Sirat' untuk membantu dan memudahkan perjalanan kita untuk menuju ke syurga Allah S.W.T.
Tuesday, March 29
dipenghujung..
Tuesday, March 8
kerja mukmin
Laut dan Dakwah – Sebuah Refleksi Jiwa
Salam sejahtera dan salam rasa dari hati… Gambar ini gambar pantai, tapi hati ini tergerak nak bercerita tentang laut. Laut yang tena...
-
Salam sejahtera dan salam rasa dari hati… Gambar ini gambar pantai, tapi hati ini tergerak nak bercerita tentang laut. Laut yang tena...
-
نموذج خطة الدرس اليومية لمادة اللغة العربية للصف الأول 1 المادة : اللغة العربية / الصف الاول بودي ...
-
(gambar ni search kat google).. huhu... Berlaku di Penjara Pudu Kuala Lumpur di suatu ketika dulu. Hanya boleh disebarkan pada orang...