Friday, May 28

PEMUDA ISLAM & AMANAH DAKWAH


PEMUDA ISLAM & AMANAH DAKWAH
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”
(Surah al-Kahfi 18: 13)
Kaum muda merupakan lapisan masyarakat yang paling kritis. Mereka memiliki wawasan ke depan dan tidak pernah puas dengan kondisi yang ada. Sikap pemuda sentiasa idealis, penuh cita-cita dan harapan. Baik terhadap sesuatu yang baik ataupun yang buruk.

Lantaran itu pula anak-anak remaja, bakal pemuda, menjadi sasaran orang-orang yang ingin merubah kondisi suatu masyarakat menjadi buruk. Mereka dihidangkan dengan kebatilan yang menjadikan mereka jauh dari agama ALLAH. Mereka diberikan racun melalui media massa, berupa televisyen, radio, majalah, filem-filem, komik, novel dan sebagainya. Itulah racun sekularisme, pembaratan serta penurunan moral dengan berbagai bentuknya.
Maka lihatlah anak-anak remaja yang membuat masalah di tengah-tengah masyarakat. Mereka hidup untuk mengganggu orang lain, bermabuk-mabukan, berpesta dan berdisko, berpeleseran di waktu malam tanpa tujuan dan lain-lain. Keadaan ini disedari atau tidak merupakan hasil perusakan terhadap generasi muda melalui media massa yang terancang. Yang lebih berbahaya adalah perusakan pola fikir melalui orang-orang yang mengaku dirinya intelek, yang rata-rata lulusan barat yang canggih dengan ilmu dan pengetahuan serta falsafah yang membingungkan. Dan sasaran mereka ini pun adalah para pemuda, kerana mereka pun ingin diikuti oleh para pemuda. Mereka-mereka itu sebenarnya generasi muda yang berpotensi. Hanya saja situasi lingkungan yang buruk dan menyesatkan, membuatkan mereka hanyut dibawa program syaitan dan iblis.

Dakwah Islam dan Pemuda
Perubahan masyarakat dari buruk menjadi baik, dari jahiliyyah menjadi Islam merupakan sasaran dakwah Islam. Islam merupakan agama yang mengajak umatnya berfikir dinamis, kritis dan kreatif… tapi bukan untuk merusak. Islam tidak menyetujui sikap jumud (statik) dalam segala hal. Kerana sifat dakwah Islam seperti di atas, maka dakwah ini mudah diterima dan dicerna oleh kalangan muda… tidak membingungkan dan meragukan.
Semangat dan cita-cita yang tinggi para pemuda hanya dapat ditampung dan disalurkan oleh Islam. Sebab Islam adalah ajaran ALLAH yang sempurna, tanpa cacat dan cela. Islam adalah agama yang mengajak manusia kepada kebaikan di dunia dan akhirat.
Ajaran Islam mengarahkan dan membimbing pemuda untuk beribadah, mengabdi, dan berbakti kepada Dzat yang Maha Tinggi, Agung dan Mulia… iaitu ALLAH SWT. Islam melatih mereka agar selalu menghubungkan diri kepada Penguasa Tunggal alam semesta. Dengan ini, mereka menjadi orang-orang yang akan menyebarluaskan rahmat dan kasih sayang ALLAH ke tengah-tengah umat manusia. Islam tidak rela para pemuda yang berpotensi itu terjerumus dalam kebejatan moral yang akan membuat mereka menjadi musuh ALLAH dan sampah masyarakat.
Tidak menghairankan, ketika Islam muncul, para pendukungnya kebanyakkan terdiri dari kaum muda yang haus akan kebenaran dan keadilan. Rasulullah SAW selama 13 tahun pertama berdakwah di Makkah tidak banyak menghasilkan jumlah pengikut. Kerana penduduk Makkah kebanyakan orang-orang tua yang sangat kuat memegang tradisi dan adat istiadat jahiliyyah.
Tetapi ketika Islam di bawa ke Madinah, sambutan meriah dan positif pun mengalir bagai ombak yang bergulung. Penduduk Madinah melihat Islam sebagai atauran hidup yang benar. Hati mereka diterangi cahaya petunjuk ALLAH. Maka dengan ikhlas mereka tinggalkan semua adat kebiasaan jahiliyyah dan merubahnya menjadi Islam. Mereka tukar kekufuran dan kedurhakaan dengan iman dan ketaatan. Hal ini disebabkan penduduk Madinah umumnya terdiri dari kaum muda.
Di sisi lain, Rasulullah SAW pun menjadikan pemuda sebagai anasir taghyir (unsur-unsur perubah). Mereka dilatih dan dibimbing untuk menjadi pemimpin dan juru dakwah. Mereka dibentuk menjadi kader-kader Islam yang tangguh dan cekal. Mereka antara lain Ali bin Abi Talib, Mus’ab bin Umair, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, juga kebanyakan para sahabat Nabi.
Sebagai contoh, da’ie dan duta Islam pertama yang diutus Rasulullah SAW di kota Yathrib adalah Mus’ab bin Umair. Dahulunya, dia adalah pemuda yang perwatakan kemas dan selalu berpakaian cantik. Setelah menerima Islam dan dikader Rasulullah SAW, Mus’ab berubah menjadi pemuda sederhana, tetapi aktif di jalan dakwahdan jihad Islam. Sehingga wafatnya Mus’ab, Rasulullah menitiskan air matanya melihat Mus’ab yang dahulunya mewah, hanya dikafani kain yang buruk. Beruntunglah Mus’ab sebagai pemuda dakwah yang telah menjalankan amanahnya.
Kendatipun masih muda belia, prestasi Mus’ab dalam dakwah sangat hebat. Dalam tempoh waktu kurang dari setahun, dia berjaya mengIslamkan kurang lebih 70 orang penduduk Yathrib. Mereka itulah yang datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai’ah (berjanji setia sehidup semati) di bukit Aqabah.
Sifat Pemuda Dakwah
Dengan pemuda sebagai hujun tombak untuk dakwah, maka Islam pun meluncur bagai anak panah. Potensi tenaga muda mereak diarahkan untuk hal yang positif dan membangun (jiwa Islam), iaitu menegakkan DinuLLAH. Al-Quran mengambarkan pemuda yang aktif dalam dakwah Islam pada kisah Ashhabul Kahfi.
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". (Surah al-Kahfi 18: 13 – 14)
Dari ayat yang mulia ini dapat kita fahami bahawa para pemuda dakwah memiliki tiga karakter utama yang mendasar, iaitu:
1. Iman kepada RABB mereka (ALLAH)
Mereka merupakan pemuda-pemuda yang meyakini ALLAH, Rasul, Malaikat, Kitab, Hari Akhir dan Qadha dan Qadar. Nilai keimanan pemuda jauh lebih tinggi dari nilai keimanan orang yang sudah tua. Sebab para pemuda beriman di tengah-tengah gejolak nafsu muda yang masih berkobar, sementara orang-orang yang sudah tua melakukan ketaatan tanpa halangan kerana sudah mendekati akhir hayat.
Para pemuda dakwah sentiasa meningkatkan dan mempertahankan iman yang menyala dalam hati mereka. Mereka tidak rela sedikitpun iman itu berubah atau berkurang. Mereka berupaya menghidupkan api iman ini di tengah-tengah masyarakat. Kerana menyedari bahawa manusia tanpa iman tiada nilainya di sisi ALLAH.
2. Selalu mengikuti petunjuk ALLAH
iaitu para pemuda yang tahu arah perjalanan dan sentiasa berjuang menegakkan kebenaran denagn petunjuk bimbingan ALLAH. Mereka selalu berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sebagi hidayah ALLAH yang diyakini akan menyelesaikan segal persoalan dengan adil dan bijaksana. Mereka ingin masyarakat diatur oleh Pencipta alam semesta dan tidak diatur oleh mereka sendiri atau dikendalikan oleh hawa nafsu segolongan manusia tertentu.
3. Bersikap Furqan
Para pemuda dakwah mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (salah). Mereka mengerti betul, mana yang membawa keimanan dan Islam dan mana yang membawa kekufuran dan kesesatan. Setelah itu, mereka menolak segala hal yang membawa kepada kekufuran dan menerima keimanan dengan penerimaan yang total. Sikap furqan merupakan pancaran keimanan dan kefahaman terhadap TauhiduLLAH yang diajarkan Islam. Mereka meyakini bahawa ALLAH adalah satu-satunya sumber hidup yang harus ditaati dan sumber ilmu agar diri tidak merasa sombong serta dijadikan tujuan akhir. Beserta itu, mereka menolak hak ALLAH ini diberikan pada selain ALLAH.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surah al-Anfaal 8: 29)
Selain itu, beberapa karakter yang lain juga menjadikan para pemuda mampu untuk mengemban tugas dakwah. Di antaranya:
4. Bersikap kritis menghadapi masyarakat
Para pemuda dakwah mengerti betul kondisi masyarakat yang menjadi medan dakwahnya. Mereka tahu bagaimana menghadapi situasi itu secara benar dan kritis. Kekritisan mereka tidak menjadikan mereka anarkis atau membuat mereka ekstrim. Mereka memahami jalan menuju perubahan umat dan bekerja untuk itu secara hati-hati dan teliti.

5. Berbeda dalam prinsip dan sikap hidup, tetapi bergabung di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat
Para pemuda dakwah menyedari kekeliruan yang ada pada masyarakat dan sanggup untuk menghindarkan diri mereka dari kekeliruan tersebut. Sementara mereka tetap hidup dan bercampur di tengah-tengah masyarakat itu dengan prinsip dan akhlaq yang berbeda. Mereka tidak tertipu dengan kondisi masyarakat yang membuat-buat kedustaan terhadap agama ALLAH. Hal ini tampak dalam kenyataan mereka di ayat berikut:
Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Surah al-Kahfi 18: 15)
Akhirul kalam, Imam As-Syahid Hassan al-Banna pernah menyatakan bahawa umat Islam dewasa ini tidak ada lagi mempunyai kekuatan. Sumber alam yang ada di bumi umat Islam semuanya habis terkuras oleh tangan-tangan asing. Kualiti umat Islam bagaikan buih-buih di lautan walaupun mereka ramai. Tapi ingatlah, bahawa ada satu kekuatan tersembunyi dari tubuh umat Islam iaitu para pemuda (as-Syabab). Bangunlah wahai pemuda! Dakwah amat memerlukan jiwa-jiwa yang cekal untuk mengembannnya. Kamu amat diperlukan untuk mengembalikan umat Islam dari kehinaan kepada kemuliaan! Jadilah junduLLAH yang akan memperjuangkan agama ALLAH hingga akhir hayatmu seperti Mus’ab bin Umair atau Zaid bin Khattab.

Wahai pemuda!

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, kerana sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemahuan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

wanita idaman.........

Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir yang baik dan buruk.

3. Bersaksi bahawa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan solat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah dan dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah kerana Allah, tawakkal, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap azab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur'an dan berusaha memahaminya, berzikir mengingat Allah ketika sendirian atau tidak dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma'ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap haiwan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

" … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang

Thursday, May 27

RINTANGAN KEDUA: ORANG MUNAFIQ YANG BENCI KEPADANYA:

Halangan kedua yang dihadapi oleh para da’ei Muslim ialah kebencian
dan tipu-daya golongan munafiqun.
Orang-orang yang munafiq memang ada di mana-mana dan dalam
zaman apa pun sepanjang sejarah tidak sunyi dan kewujudan mereka. Ini adalah
kerana motif dan karenah kemunculan golongan ini memang ada dan mungkin
wujud bila-bila masa.
Ada yang menjadi munafiq didorong oleh pertimbangan untuk
merangkul kepentingan duniawi. Kadang-kadang ia berselindung di sebalik
taqwa dan agama untuk sampai kepada tujuannya. Ada yang menjadi Munafiq
dengan tujuan mencetuskan krisis, melaga-laga dan memecahbelahkan barisan
umat Islam. Ada yang berbuat demikian kerana niat jahatnya sendiri. Ada pula
yang mendapat arahan dan orang lain. Mereka pun meresapi jamaah untuk
tujuan-tujuan tadi. Terdapat juga golongan yang sifat Munafiq telah mendarah
daging dalam dirinya hingga sukar untuk melepaskan diri dari sifat ini. Ada
yang menjadi haipokrit untuk berkuasa atau melepaskan diri dan penindasan
penguasa. Dengan sifat ini orang Munafiq cuba merangkul habuan dunia yang
fana, atau pangkat kebesaran yang tidak kekal. Ia malah sanggup menjual
agamanya dengan mendapat bayaran kesenangan dunia. Kadang-kadang sifat
ini ditimbulkan oleh rasa dendam, atau dengki atau kedua-duanya sekali.
Manusia Munafiq mempunyai sifat-sifat dan perwatakan tertentu.
Rasulullah telah menerangkan ciri-ciri mereka supaya dikenali oleh para
Mukminin. Dengan demikian mereka dapat menghindarkan diri dari bahaya
mereka. Antara Hadith Rasulullah yang berkaitan ialah sabda beliau:
“Ada tiga sifat; siapa yang.memilikinya maka dia adalah Munafiq walaupun ia berpuasa,
solat, naik haji, mengerjakan umrah dan mengaku muslim. Iaitu orang yang berdusta
bila berkata, mungkir bila berjanji dan mengkhianati amanah.”
(Riwayat Abu Ya’li)
Dalam riwayat Ahmad beliau menerangkan:
“Empat sifat; siapa yang bersifat dengan keempat-empatnya maka dia adalah Munafiq
tulen. Siapa yang ada salah satu dan sifat ini maka ia mempunyam satu ciri dari ciri
Munafiq sehinggalah ia membuangkannya iaitu apabila ia berkata ia berdusta, apabila
berjanji ia mungkir, apabila membuat janji setia, ia khianati, apabila bertikai ia bersikap
nyinyir.”
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim beliau berkata:
“Tanda munäfiq ada tiga:Jika berkata ia dusta, jika berjanji ia mungkir bjla mengikat
janji setia ia khianat.”
Angkatan dakwah Islam sepanjang sejarah tidak pernah terlepas dari
ancaman dan angkara golongan manusia seperti ini. Mereka tampil untuk
merosak, menimbulkan keraguan terhadap pendakwah. Kadang-kadang mereka
membonceng untuk meraih untung dan mendapat matlamat tertentu.
Semasa hayat Rasulullah golongan Munafiq ini tidak pernah diam. Asal ada
sahaja kesempatan pasti mereka eksploit untuk tujuan-tujuan mereka yang
tersendiri. Allah mengungkapkan niat mereka dengan firmannya:
یُرِیدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ آَرِهَ الْكَافِرُونَ
(8)
Mereka hendak memadamkan nur Allah dengan mulut mereka namun Allah pasti
menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci”
(Surah Al-Saf: Ayat 8)
Hadith Al-Ifk (berita dusta)
Tersebut dalam buku-buku Sirah bahawa Aishah telah ikut serta bersamasama
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam dalam peperangan menentang
Yahudi Bani Al Mustaliq. Ketika rombongan Muslimin berhenti Aishah keluar
dan tunggangannya untuk buang air. Setelah buang air beliau kembali dan
kemudian beliau menyedari loketnya keciciran ,lantas beliau kembali semula ke
tempat di mana beliau lalu untuk mencari loket tersebut. Pemergian beliau kali
kedua itu tidak disedari oleh ahli rombongan. Akhirnya mereka berangkat
membawa tunggangan khas Aishah dengan sangkaan bahwa beliau berada di
dalamnya. Apabila Sayyidatina Aishah kembali semula ke tempat perhentian
rombongan beliau tidak menemui seorang pun di sana. Beliau pun duduk
menunggu dengan harapan bahawa apabila rombongan itu nanti sedar yang
beliau tidak ada, mereka akan berpatah semula mencarinya. Oleh kerana beliau
amat sangat mengantuk akhirnya beliau tertidur. Beliau terjaga apabila Safwan
Bin Mu’attal lalu di sisinya sambil berkata: “Inna lillahi wainna ilaihi rajiuun,
isteri Rasulullah rupa-rupanya.” Safwan sebenarnya telah terlewat dari
rombongan itu. Sebab itu beliau mengekorinya dari belakang. Apabila beliau
menyedari dengan pasti bahawa isteri Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam
telah tertinggal dari rombongan maka beliau pun merendahkan untanya dan
turun dari tunggangan tersebut. Beliau menghampirkan unta tersebut kepada
Aishah tanpa menghamburkan sepatah kalimat pun. Aishah lantas
menunggangnya, tidak ada yang didengarnya dari Safwan melainkan ucapan
istirja’nya. Safwan membawa Aishah sehinggalah bertemu dengan rombongan
tentera Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam yang kebetulan berhenti rehat di
suatu tempat yang bernama Nahru Azzahirah. Apabila anggota-anggota
rombongan mengetahui perkara ini masing-masing membuat telahan yang
berbagai-bagai. Ketika itu Ibn Ubai bin Salul; iaitu seorang Munafiq yang lihai,
sedar bahawa inilah peluang baginya untuk melepaskan dendam dan bencinya
terhadap Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam. Ia menghebohkan cerita-cerita
dusta berhubung dengan peristiwa tersebut. Apabila mereka pulang ke
Madinah, berita-berita buruk sekitar peristiwa tersebut begitu berleluasa menjadi
bahan percakapan orang-orang yang gemar dengan cerita-cerita dusta seperti
itu. Dalam pada itu Rasulullah tetap berdiam diri dan tidak berkata apa-apa.
Peristiwa yang membawa tersebarnya berita dusta yang menjejaskan Rasulullah
benar-benar merupakan suatu cubaan bagi Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam
dan juga bagi umat baginda sampai hari Qiamat. Cubaan Allah ini menaikkan
martabat orang-orang tertentu malah menambahkan hidayah dan keimanan
kepada orang yang benar-benar telah mendapat petunjuk, manakala orang yang
aniaya tidak akan bertambah kecuali kerugian belaka. Cubaan Allah Subhanahu
Wata’ala terhadap Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam dilengkapkan lagi
dalam bentuk tidak diturunkan wahyu selama sebulan agar segala-galanya
menjadi nyata dan terang. Orang-orang Mukmin yang jujur dalam keimanannya
terus bertambah keimanan mereka, konsisten, bersikap adil, benar dan baik
sangka kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan RasulNya, keluarga baginda,
orang-orang yang benar dan soleh daripada hambaNya. Manakala orang-orang
Munafiq menjadi-jadi kemunafikannya dengan menghebahkan berita dusta.
Dengan demikian. dapatlah Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam dan orangorang
yang beriman mengetahui rahsia hati mereka. Cubaan ini juga bertujuan
menambahkan lagi kesungguhan ibadah dan penyerahan diri kepada Allah
Subhanahu Wata’ala oleh Sayyadatina Aishah dan kedua ibubapa beliau.
Dengan demikian semakin besarlah penyerahan dan harapan semua yang
terlibat dalam peristiwa ini kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Semakin kuatlah
keinginan untuk merendah diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, baik sangka
terhadap ketentuanNya dan mengharapkan rahmat kasihNya. Menginsafi
hikmat peristiwa inilah agaknya yang mendorong Sayyidatina Aishah
mempunyai sikap tersendiri selepas turunnya wahyu Allah Subhanahu Wata’ala
menjelaskan bahawa Aishah bersih dari tuduhan dusta tersebut setelah turunnya
ayat ini:
إِنَّ الَّذِینَ جَاؤُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اآْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى آِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ
عَظِيمٌ ( 11 ) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا
وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ ( 12 ) لَوْلَا جَاؤُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ یَأْتُوا
بِالشُّهَدَاء فَأُوْلَئِكَ عِندَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ ( 13 ) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ( 14 ) إِذْ
تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا
وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ ( 15 ) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا یَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ
بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ( 16 ) یَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِن
( آُنتُم مُّؤْمِنِينَ ( 17 ) وَیُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآیَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ( 18
(Surah Al-Nur: 11-18)
Kedua ibubapa Sayyadatina Aishah menyuruh beliau pergi menemui
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam. Sayyidatina Aishah menjawab dengan
katanya:
“Demi Allah, saya tak akan pergi (minta maaf) kepadanya. Saya tidak akan memuji
kecuali Allah Subhanahu Wata’ala, Dialah yang telah membersihkan diriku (dari
tuduhan tersebut.”
Sekitar peristiwa ini Sayyid Qutb dalam tafsir Fizilalil Qur’an menulis:
Sesiapa pun mesti akan merasa aneh walaupun hingga kini, terhadap peristiwa
ini. Bagaimana boleh berlaku dalam suatu kumpulan jemaah Muslimin boleh
berleluasa tersebar berita buruk dan cerita dusta seperti ini. Berita ini pasti
meninggalkan kesan yang berat dalam jamaah, menimbulkan luka yang dalam,
di dalam jiwa yang paling suci dan paling tinggi’. Sesungguhnya kemelut yang
dihadapi oleh Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam dan terutamanya yang
diharungi oleh jamaah Muslimin dan Islam ketika itu adalah kemelut yang
paling hebat yang pernah dihadapi oleh baginda di mana baginda dapat
mengatasinya. Baginda dapat terus melindungi kewibawaannya, membuktikan
kelapangan dada dan kesabarannya.
Kendatipun ujian begitu perit di samping reaksi-reaksi yang begitu hebat
namun Allah Subhanahu Wata’ala masih melindungi jamaah Muslimin. Allah
tidak menurunkan kepada mereka azab atau siksanya, padahal perbuatan yang
telah dilakukan wajar diganjari dengan siksa yang pedih; siksa yang setimpal
dengan penderitaan Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam, isteri baginda dan
sahabat karib baginda, yang sentiasa menaruh baik sangka terhadapnya.
Setidak-tidaknya siksa yang setimpal dengan kejahatan fitnah yang tersebar luas
di kalangan jamaah Muslimin seimbang pula dengan fitnah yang mencemarkan
nilai-nilai quddus yang dihormati dan menjadi asas kehidupan jamaah
Islamiyyah itu sendiri.
Fitnah tersebut berkembang dan tersebar dan mulut ke mulut, dan satu
lidah ke satu lidah tanpa usaha meneliti dan memastikan kebenarannya terlebih
dahulu. Kata-kata tersebut seolah-olah diterima mentah-mentah tanpa
diserapkan oleh akal, dan dihalusi oleh hati dan seterusnya. (petikan dan tafsir
Surah Al-Nur).
Mengingat bencana yang ditimbulkan oleh sifat Munafiq dan golongan
Munafiq dalam barisan Islam, maka ayat-ayat Al Qur’an al Karim menghuraikan
dengan terperinci akan sifat-sifat atau petanda hipokrit dan sifat-sifat golongan
Munafiqun. Tujuannya ialah untuk mendedahkan hakikat mereka, di samping
mengajak kaum Muslimin supaya dapat berhati-hati menghadapi mereka.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
( وَمِنَ النَّاسِ مَن یَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ( 8
( یُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِینَ آمَنُوا وَمَا یَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا یَشْعُرُونَ ( 9
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا آَانُوا یَكْذِبُونَ
( 10 ) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ( 11 )
أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لاَّ یَشْعُرُونَ ( 12 ) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ آَمَا
آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ آَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَكِن لاَّ
یَعْلَمُونَ ( 13 ) وَإِذَا لَقُواْ الَّذِینَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ إِلَى شَيَاطِينِهِمْ
قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِؤُونَ ( 14 ) اللّهُ یَسْتَهْزِىءُ بِهِمْ وَیَمُدُّهُمْ فِي
( طُغْيَانِهِمْ یَعْمَهُونَ ( 15
“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka
hendak menipu Allah dan orang-raang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri
sendiri sedang mereka tidak sedar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya: dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi!
‘Mereka menjawab:
‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi mereka tidak
sedar. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang
lain telah beriman, ‘Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orangorang
yang bodoh telah beriman?” Ingatlah, sesunguhnya merekalah orang-orang yang
bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang
beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman’’ Bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu,
kami hanyalah berolok-olok. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan
mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.”
(Surah Al-Baqarah: Ayat 8-15)
Untuk menyedarkan orang-orang Mukminin tentang bahaya golongan
Munafiqun ini dalam jamaah Muslimin Allah Subhanahu Wata’ala
memperuntukkan dalam Al Qur’an suatu surah khusus tentang mereka iaitu
Surah A1-Munafiqun. Allah berfirman:
إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ یَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ
وَاللَّهُ یَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ ( 1) اتَّخَذُوا أَیْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن
سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا آَانُوا یَعْمَلُونَ ( 2) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ آَفَرُوا فَطُبِعَ
عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا یَفْقَهُونَ ( 3) وَإِذَا رَأَیْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن یَقُولُوا
تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ آَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ یَحْسَبُونَ آُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ
فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى یُؤْفَكُونَ ( 4) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا یَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
( رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُؤُوسَهُمْ وَرَأَیْتَهُمْ یَصُدُّونَ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ ( 5
سَوَاء عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَن یَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا
یَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ( 6) هُمُ الَّذِینَ یَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا عَلَى مَنْ عِندَ رَسُولِ
اللَّهِ حَتَّى یَنفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا
یَفْقَهُونَ ( 7) یَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِینَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا یَعْلَمُونَ ( 8) یَا أَیُّهَا
الَّذِینَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُآُمْ عَن ذِآْرِ اللَّهِ وَمَن یَفْعَلْ ذَلِكَ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ( 9) وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاآُم مِّن قَبْلِ أَن یَأْتِيَ
أَحَدَآُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِیبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَآُن مِّنَ
الصَّالِحِينَ ( 10 ) وَلَن یُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا
( تَعْمَلُونَ ( 11
Maksudnya:
“Apabila orang-orang Munafiq datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui
bahawa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah “. Dan Allah mengetahui bahawa
sesungguhnya kamu benar-benar ‘RasulNya; dan Allah mengetahui bahawa
sesungguhnya orang-orang yang berMunafiq itu benar-benar orang pendusta. Mereka
itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari
jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah kerana bahawa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian
menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; kerana itu mereka tidak dapat
mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka kamu akan kagum.
Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakanakan
kayu yang tersandar. Mereka mengira bahawa tiap-tiap teriakan yang keras
ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah
terhadap mereka; moga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai
dipalingkan (dari kebenaran)?
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan
keampunan bagimu, mereka membuang muka dan kamu melihat mereka berpaling
sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka kamu mintakan keampunan
atau tidak kamu mintakan keampunan bagi mereka.
Sesungguhnya AlIah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fassiq. Mereka
orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar) “janganlah kamu
memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah
supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allahlah
perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang Munafik itu tidak memahami.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang
kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu
hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang Mukmin tetapi orang-orang
Munafiq itu tidak mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu
dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebahagian dari
apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di
antara kamu; lalu nanti ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan
(kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan
aku termasuk orang-orang yang soleh. Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
(kematian) seseorang apabila datang waktu matinya. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.”
(Surah Al-Munafiqun: Ayat 1-11)
Sejarah telah membuktikan tentang bahaya golongan ini terhadap
gerakan Islam dalam menimbulkan fitnah dan krisis. Gerakan Islam tentu tidak
akan menemui pukulan yang hebat. Aktivis-aktivisnya tentu tidak tersiksa
dengan parah oleh para penguasa yang kejam, kalaulah tidak kerana adanya
segelintir golongan munafik yang menjualkan diri dan maruah kepada syaitan.
Atau kalaulah tidak kerana adanya pembelot yang didorong oleh rasa takut atau
mudah dibeli; mereka menjual ayat-ayat Al Qur’an dengan harga yang murah.
Alangkah buruknya penjual seperti itu. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
Maksudnya:
وَمِنَ النَّاسِ مَن یَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ آَعَذَابِ
اللَّهِ وَلَئِن جَاء نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا آُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي
( صُدُورِ الْعَالَمِينَ ( 10 ) وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِینَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ ( 11
“Di kalangan manusia ada yang berkata, kami beriman dengan Allah tetapi apabila dia
dicuba dengan kesakitan dalam perjuangan kerana Allah ia menjadikan gangguan
manusia itu setaraf dengan azab Allah dan jika engkau wahai Muhammad mendapat
kemenangan dari Tuhanmu, nescaya mereka berkata: “Sesungguhnya kami bersamamu
(menyokongmu). Apa bukankah Allah lebih mengetahui segala yang tersirat dalam dada.
Akan Allah pastikan siapakah sebenarnya yang beriman dan akan Allah pastikan siapa
pula yang Munafiq.
(Surah Al Ankabut: Ayat 10-11)
Gerakan Islam yang teguh menghadapi segala tipu muslihat musuhmusuh
Islam dari timur atau barat, mungkin dapat digugat atau diruntuhkan
oleh cakap-cakap orang-orang Munafiq yang memutarkan lidah,
mengembangkan fitnah dalam lingkungan jamaah. Samalah seperti yang berlaku
dalam period-period sejarah di zaman silam. Mereka berjaya menyebarkan
fitnah permusuhan, mencetuskan pertarungan antara orang-orang perseorangan
dalam jemaah.
Demikianlah, para da’ie kadangkala mendapat cubaan Allah Subhanahu
Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala mewujudkan sekitar mereka orang-orang
Munafiq yang membawa khabar-khabar angin dan cerita dusta, membuat
tuduhan terhadap diri mereka, mengatakan yang tidak-tidak.
Kadangkala mereka juga dicuba oleh perbuatan Munafiq yang
mencemarkan nama baik, amanah, martabat, kejujuran, ilmu dan agama mereka.
Pendekata mereka dihadapkan dengan pelbagai perbuatan yang
menghakis kewibawaan; semata-mata untuk memuaskan dendam kesumat
golongan Munafiq tersebut. Segala cubaan dan Ibtila’ tersebut ialah untuk Allah
Subhanahu Wata’ala dapat memastikan kelurusan suatu pergerakan dan sikap
anggota-anggotanya untuk Allah Subhanahu Wata’ala mengampunkan dosa
mereka dan meningkatkan martabat mereka menghadapi golongan Munafiq
tersebut. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ یَفْرَحُواْ بِهَا وَإِن تَصْبِرُواْ
( وَتَتَّقُواْ لاَ یَضُرُّآُمْ آَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ بِمَا یَعْمَلُونَ مُحِيطٌ ( 120
“Jika kamu memperoleh kebaikan, nescaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu
mendapat bencana, mereka bergembira kerananya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa,
nescaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.
Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”
(Surah Ali-Imran Ayat 120)
Bekalan seorang da’ei dalam menghadapi hal ini ialah sentiasa tabah
menghadapi kesusahan, sentiasa berlindung di bawah rahmat Allah. Allah
Subhanahu Wata’ala sahaja tempat mengadu dan tempat berlindung dan
kejahatan insan Munafiq dan syaitan yang direjam. Allah berfirman:
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا یَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ
یَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِیلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ
( تَحْوِیلًا ( 43
“Tipu daya jahat tidak akan menimpa kecuali diri penipu itu sendiri.”
(Surah Fatir: Ayat: 43)
Sesungguhnya sikap baik sangka terhadap Allah Subhanahu Wata’ala
percaya akan keadilan rahmat dan kudratnya adalah merupakan sebaik-baik
hiburan bagi para pendakwah di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Sifat mereka
selaras seperti yang diungkapkan dalam Al-Qur’an:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ
بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ
ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاآِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ
وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّآَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِینَ فِي
الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِینَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
(177)
‘Mereka bersifat sabar menempuh penderitaan dan kesusahan, malah ketika mengharungj
penderitaan tersebut.
(Surah Al-Baqarah: Ayat 177)
Akan tetapi apabila kita menyatakan bahawa para da’ei berlindung
dengan Allah Subhanahu Wata’ala dalam menghadapi bencana munafik tidak
bermakna mereka mendiamkan diri melihat perbuatan angkara mereka tanpa
berusaha menyedarkan orang lain tentang bencana mereka atau tanpa usaha
menumpaskan mereka. Malah para da’ei wajib bertindak demikian. Kewajiban
ini tidak harus dibiarkan atau diabaikan oleh para da’ei justeru membiarkan
penyakit terus menular dalam jasad; sudah pasti lama kelamaan akan
menggugat jasad tersebut. Tindakan membendung bencana ini hendaklah
dilaksanakan dengan teliti dan bijaksana hingga tidak melibatkan orang-orang
yang tidak berdosa.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
یَا أَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا إِن جَاءآُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
( فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ( 6
“Hai orang-orang yang beriman jika datang seorang fasik kepada kamu membawa berita
pastikanlah agar kamu tidak mengapa-apakan satu golongan secara jahil sehingga
akhirnya kamu menyesal terhadap perbuatan yang terlanjur yang telah kamu lakukan.”
(Surah Al-Hujurat: Ayat 6)
Ketika Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam mengetahui berita terdirinya
Masjid ‘AI-Dirar ’ sebuah masjid yang dibina oleh segolongan kaum munãfiq
untuk menandingi dan melemahkan fungsi Masjid Quba’. Tujuan akhir mereka
ialah untuk memecahbelahkan jamaah Muslimin. Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam telah bertanya kepada golongan tersebut tentang motif pembinaan
masjid tadi. “Mereka bersumpah atas nama Allah Subhanahu Wata’ala dan
berkata: “Niat kami tidak lain hanyalah untuk kebaikan. Padahal Allah
Subhanahu Wata’ala menjadi saksi bahawa sebenarnya mereka berdusta.”
Menginsafi hakikat hal ini Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam lantas
memerintahkan beberapa sahabat baginda supaya pergi meruntuhkan masjid
tersebut. Masjid itupun diruntuhkan oleh sahabat baginda. Peristiwa ini
dirakamkan oleh A1-Qur’an seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu
Wata’ala:
وَالَّذِینَ اتَّخَذُواْ مَسْجِدًا ضِرَارًا وَآُفْرًا وَتَفْرِیقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا
لِّمَنْ حَارَبَ اللّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ وَلَيَحْلِفَنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ الْحُسْنَى وَاللّهُ
یَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ( 107 ) لاَ تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ
أَوَّلِ یَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ یُحِبُّونَ أَن یَتَطَهَّرُواْ وَاللّهُ یُحِبُّ
( الْمُطَّهِّرِینَ ( 108
Maksudnya:
“Dan (di antara orang-orang Munafiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid
untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang Mukmin) dan kerana kekafiran
(nya dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menjadi post perisik
untuk orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka
sesungguhnya bersumpah: ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan. ‘Dan Allah
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya
masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba’), sejak hari pertama adalah lebih
patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
(Surah A1-Taubah: Ayat 107-108)
Syeikh Khudari dalam kitabnya yang bertajuk Nurul Yaqin halaman 83,
menulis perkara ini sebagai berikut:
Ikut serta menolong golongan Munafiq meneruskan cita-cita mereka membina masjid
Dhirar ini ialah segelintir orang-orang Arab Madinah yang keliru dan tidak menerima
dakwah Muhammad Sallallahu’alaihi Wasallam. Mereka menyembunyikan kekafiran
kerana takut nyawa mereka tergugat. Pemimpin kumpulan ini bernama ‘Abdullah bin
Ubai bin Salul Al Khazraji. Sebelum Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam berhijrah ke
Madinah beliau pernah dicalonkan untuk menjadi ketua penduduk Madinah
Sesungguhnya tidak diragukan lagi tentang bencana Munafiq terhadap orang Islam lebih
besar daripada bencana yang mungkin diakibatkan oleh orang-orang kafir. Orang-orang
Munafiq hidup bersama orang-orang Islam, mengetahui rahsia mereka dan membocorkan
rahsia mereka kepada musuh sama ada golongan Yahudi atau golongan yang lain seperti
mana yang kerap berlaku. Meskipun prinsip-prinsip yang dipegang oleh Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam terhadap mereka ialah menerima apa yang nyata dan
meninggalkan segala yang tersirat dalam hati kepada ketentuan Allah Subhanahu
Wata‘ala tetapi Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam tidak pula mengamanahkan
kepada mereka melakukan sesuatu apa pun. Contohnya Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam sering meninggalkan Madinah dan sering pula mewakilkan kekuasaannya
kepada beberapa orang Ansar. Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah
mengangkat mana-mana orang yang diketahuinya mempunyai ciri-ciri kemunafiqan,
kerana Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam mengetahui akibat yang mungkin berlaku
jika sekiranya mereka diangkat menggantikan beliau semasa beliau tidak ada. Mereka
pasti akan mengambil kesempatan tersebut untuk merosakkan orang-orang Islam. Ini
satu pelajaran penting mesti difahami oleh ketua dan pemimpin Islam. Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam mengajar mereka supaya dalam hal-hal yang penting tidakmempercayakan perlaksanaannya kepada orang-orang yang mempunyai ciri-ciri
kemunafiqan atau menonjolkan apa yang berlawanan dengan isi hatinya
Sejarah Islam mencatatkan kisah perkelahian seorang yang mengambil
upah daripada Umar Ibn Khattab dengan seorang yang mengikat perjanjian
saling tolong-menolong dengan Khazraj iaitu qabilah Munafiq Abdullah bin
Ubai bin Salul. Dalam pergaduhan tersebut buruh Umar Ibn Khattäb telah
memukul lawannya sehingga berdarah. Peristiwa ini hampir sahaja
mencetuskan beberapa perkembangan krisis yang tidak diingini. Kalaulah tidak
kerana kebijaksanaan Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam yang bertindak
segera mengawal dan memadamkan sumber fitnah tersebut nescaya buruk
sekali padahnya.
Sejarah menceritakan bahawa apabila berita ini sampai ke pengetahuan
Ibnu Salul beliau amat marah. Beliau lantas berkata kepada beberapa orang
Khazraj yang berada di samping beliau ketika itu: “Tidak ada penghinaan yang
lebih besar yang mereka lakukan seperti hari ini. Mereka (Ansar) tergamak
melakukannya. Mereka cuba bertelingkah dengan kita di negeri kita sendiri.
Demi Allah keadaan kita dengan orang-orang Muhajirin tidak seperti mana kata
orang: “Engkau gemukkan anjing mu nanti ia akan menggigitmu.”
Demi Allah Subhanahu Wata’ala jika kami pulang nanti ke Madinah
nescaya pihak yang mulia akan mengenyahkan orang-orang yang hina. Dalam
kumpulan Abdullah tersebut kebetulan ada seorang belia remaja yang kuat
pegangan kelslamannya bernama Sa’id Bin Arqam. Apabila ia mendengar
ucapan Abdullah Bin Ubai sedemikian itu ia pun menyampaikannya kepada
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam.
Untuk membendung berita itu Rasulullah pun memerintahkan
rombongan yang menyertai beliau berangkat lebih awal dan masa yang
dijadualkan. Ini ialah untuk menghindarkan peristiwa tersebut menjadi tajuk
perbualan mereka. Usaid bin Hadir datang menemui baginda untuk
menanyakan Rasulullah tentang motif keberangkatan yang mendadak di luar
jadual yang ditetapkan. Rasulullah berkata kepadanya: “Apa tidakkah engkau
mendengar apa yang dikatakan oleh kawan-kawan kamu yang bercadang
hendak mengeluarkan orang-orang yang hina dan Madinah, kalau ia pulang
nanti.” Ujar Usaid: “Demi Allah wahai Rasulullah engkaulah yang berhak
mengeluarkannya dari Madinah. Demi Allah dialah orang yang hina dan
engkaulah orang yang mulia. Rasulullah terus memimpin rombongan mujahid
Islam dengan pantas sehingga mereka keletihan kerana panas terik. Kemudian
beliau dan rombongannya singgah berhenti rehat. Dalam pada itu beberapa
orang Ansar pergi menemui Abdullah bin Ubai menasihatkannya supaya meminta maaf kepada Rasulullah. Tetapi Abdullah Bin Ubai memalingkan
wajahnya dengan rasa besar diri enggan memohon maaf. Berikutan dengan itu
turunlah surah al Munafiqun yang mendedahkan tembelang Abdullah para
pengikutnya dan penyokongnya yang munafiq.
Antara orang-orang yang dikenal sebagai munafiq ialah Nabtal Ibnu Al
Harth. Rasulullah pernah mengeluarkan kata-kata tentang beliau. Katanya siapa
yang mahu melihat syaitan hendaklah ia melihat Nabtal Ibnu Harth. Beliau
selalu datang menemui Rasulullah dan bercakap-cakap dengan Rasulullah.
Rasulullah memberi perhatian dan mendengar perkataannya. Apabila ia pulang
Nabtal menemui orang-orang munafiq dan mencemuhkan Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam. Ia mengatakan Muhammad itu cepat percaya,
Muhammad itu suka mendengar dan cepat percaya cakap orang.
Allah berfirman:
وَمِنْهُمُ الَّذِینَ یُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَیِقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَّكُمْ یُؤْمِنُ بِاللّهِ
وَیُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِینَ آمَنُواْ مِنكُمْ وَالَّذِینَ یُؤْذُونَ رَسُولَ اللّهِ لَهُمْ
( عَذَابٌ أَلِيمٌ ( 61
Maksudnya:
“Di antara mereka (munafiqin) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi
mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang
baik bagimu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mu‘min, dan menjadi
rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu. “Dan orang-orang yang
menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka ‘azab yang pedih.”
(Surah Al-Taubah: Ayat 61)
Di antara anggota tentera munafiq pada waktu itu ialah Murabba’ bin
Qaizi. Beliau pernah berdalih untuk tidak menyertai peperangan Khandak (A1-
Ahzab). Beliau mengatakan kepada Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam
bahawa:
“Rumah kami terdedah (tidak aman)”.
Dalam peristiwa ini Allah Subhanahu Wata’ala berfirman lagi:
Maksudnya:
وَإِذْ قَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ یَا أَهْلَ یَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَیَسْتَأْذِنُ فَرِیقٌ
مِّنْهُمُ النَّبِيَّ یَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِن یُرِیدُونَ إِلَّا فِرَارًا
(13)
“Dan sebahagian daripada mereka meminta izin kepada Nabi (untuk pulang kembali)
dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tiada penjaga).” Dan
rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak melarikan
diri.”
(SurahAl-Ahzab: Ayat 13)
Kaum munafiqin di Madinah ketika itu ikut hadir dalam majlis
pertemuan kaum Muslimin, mendengar pandangan-pandangan dan ucapanucapan
mereka, tetapi mereka sentiasa merendah-rendahkan orang-orang Islam
dan mempermain-mainkan agama mereka. Pada suatu hari kaum munafiqin
tersebut berkumpul dalam masjid Nabawiy, sambil bercakap-cakap sesama
sendiri dengan berbisik-bisik, masing-masing merapatkan diri sesama sendiri.
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam melihat mereka berbuat demikian lalu
memerintahkan mereka keluar. Merekapun dikeluarkan daripada masjid dengan
keras. Pengawal Islam, Abu Ayub Khalid Ibnu Zaid bangun menyeret kaki Amr
Ibnu Qais — tokoh munafiqin yang pada suatu waktu dahulu adalah penjaga
berhala-berhala di zaman jahiliyyah. Ia pun terus diseret sampai keluar masjid.
Selepas itu Abu Ayub mencekak baju Rafe’ Ibnu Wadi’ah seorang lagi kader
munafiqin; lalu disentapnya dengan keras sambil menampar wajah Rafe’. Beliau
menolak Rafe’ keluar daripada masjid sambil berkata, “Nyahlah engkau wahai
munafiq bangsat! Jauhlah wahai munafiq dan masjid Rasulullah ini!”

isu 'judi bola'

salam...seperti biasa,jalan-jalan terjumpe artikel ni kat blog farhan....lalu di'copy'...huhu




“Mereka bertanya kepada kamu (wahai Muhammad) tentang arak dan judi. Katakanlah olehmu, pada keduanya terdapat dosa yang besar dab beberapa manfaat bagi manusia. Dan dosa keduanya adalah lebih besar daripada menfaatnya”. Surah al-Baqarah : 219

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya arak dan judi, pemujaan berhala dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah adalah semata-mata kotor dari perbuatan syaitan. Oleh itu, hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya. Sesungguhnya syaitan itu hanyalah bermaksud mahu menimbulkan permusuhan dan kebencian antara kamu dengan sebab arak dan judi adan mahu memalingkan kamu daripada mengingati Allah dan dari mengerjakan sembahyang. Oleh itu mahukah kamu berhenti daripda melakukan perkara keji dan kotor itu atau kamu masih berdegil?" Surah al-Maidah : 90-91

“Sesiapa yang bermain judi sesungguhnya dia telah menderhakai Allah Taala”
Riwayat :Ahmad, Malik, Abu Daud dan Ibnu Majah

Apakah mereka terlupa runtuh bangun sebuah negara sama ada segi ekonomi dan pentadbiran adalah atas sebab tangan manusia yang mengurusnya. Pemimpin yang memulakannya pastu meruntuhkannya. Apakah domba mereka menyatakan fakta ramai golongan agama tidak kukuh hujah mereka tatkala menyatakan bantahan terhadap penghalalan isu judi di Malaysia?? Adakah mereka telah di sokong hujah ulama' su'(alim agama yang jahat).

(GAMBAR HIASAN)

Ibn Khaldun dalam muqadimahnya cukup menceritakan runtuh sebuah bangsa dunia bukan faktor kekalahan di dalam peperangan tetapi kurang adabnya mereka dalam pemahaman ilmu dan tidak mengamalkannya dengan membiarkan melata ARAK, JUDI dan RIBA di dalam masyarakat. Atas faktor ini negara yang teguh lagi berdisiplin tinggi mengambil peluang mengancam dan meruntuh sebuah bangsa.

Sesungguhnya, prinsip strategi formasi tentera sejak berkurun dahulu adalah; kemungkinan 100% peluang kemenangan adalah punca serangan!! Kelemahan umat Islam di hidang dengan hiburan yang merosakkan masyarakat dan keturunan muslim adalah kemungkinan 100% untuk mengadakan serangan ke atas kaum muslimin. Itulah keberanian mereka di Iraq!!! dan juga di Palestin serta negara Islam.
"Sesungguhnya, merekalah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi mereka tidak menyedari" Surah al-Baqarah :12

PERSOALAN DEMI PERSOALAN
1) Untuk apa dipulangkan CUKAI kepada rakyat hasil CUKAI ARAK dan JUDI??? Jika rakyat masyarakat semakin musnah dengan menerima dan mengamal aktiviti yang sama sehingga tidak memberi produktif kepada pengeluaran negara?
2) Hujah apa digunakan menghalalkan lesen JUDI untuk mengelakkan judi HARAM ini? Adakah rempit halal di balas rempit haram sedangkan tetap membahayakan penunggang jalanraya lain( pemahaman berlumba di litar lumba bukan istilah rempit)...
3) Apakah rakyat di utamakan atau kerajaan di utamakan? Mengutamakan matlamat kerajaan sahaja yang bersifat kapitalis!!! Hasil matlamat mengejar peningkatan GDP yang sementara untuk mendapatkan pangkat dan nama tetapi rakyat terus tertinggal dan makin rosak hari demi hari dan generasi depan menjadi generasi cintakan hiburan?
4) Apakah pula peranan JAKIM di mana suara Menteri Agama?
APAKAH PULA PERANAN JAKIM

Persoalan yang itu tidak perlulah di jawab oleh saya mahupun masyarakat. Biarkanlah tangan-tangan yang tidak sedar akan kerosakan mereka lakukan menjawabnya dengan telus dan rapi.

Soalan ke 4 itu sahajalah sengaja saya lekatkan dan usik2 dan memberi qudwah hassanah hasil e-mail dari sahabat saya saudara Nasaie APAKAH TUJUAN HIDUP DI DUNIA WAHAI AGAMAWAN.

Cerita sebuah kisah....

"Ketika September 1999,gaji pokok beliau sebagai pensyarah kanan UiTM Jengka sebanyak RM5000. Apabila mohon berhenti untuk bertanding sebagai calon Pas dun Jengka, dia dipujuk tidak letak jawatan dan dinaikkan gaji RM6000 terus. Kenaikan tangga gaji bertangga-tangga. Rumah diberikan (teres dua tingkat) dalam kawasan kampus.
Tetapi dia tolak dan bertanding dun Jengka, menang dan perolehi gaji pokok sekadar RM3500. Satu malam dia diminta keluar dari rumahnya. Dan dalam masa yang singkat terpaksa mencari rumah sewa kecil teres setingkat di Taman Desa Jaya. Walaupun tak sebaik imam Ahmad bin Hambal, tetapi jauh lebih baik daripada Jamil Khir.
Terbaru, menitis air mata mendengar luahannya. Dia sudah membeli rumah sendiri sekitar tahun 2002. Sampai hari ini, sudah dua tahun tidak mampu membayar rumahnya kerana ketiadaan wang. Mungkin dia tidak buat pinjaman bank, jadi tidak adalah dilelong. Apapun, ulama duduk dalam Umno/kerajaan, mulut terkunci. Ulama duduk dalam gerakan Islam, hidupnya susah daripada segi dunia, tetapi mulutnya bebas, jiwa bebas dan tidak gentar.
Teringat kata-katanya, jihad paling besar di zaman ini ialah menegur pemerintah yang zalim. "

Wallahu'alam...
farhan.algemasi@gmail.com

Wednesday, May 26

teman..............

Teman, Aku ingin...
Teman tersayang,
Aku ingin kita seperti Abu Bakar al-Siddiq,
Persahabatan dijalin kerana al-Khaliq,
Harta dikorbankan bukan sedikit,
cintakan kebenaran, sanggup bersakit.

Serta tawakkal Ibrahim mulia,
Ketika meninggalkan insan tercinta,
Di bumi tandus tanpa bicara,
Meyakini Allah sebagai Penjaga.

Aku impikan antara kita seorang Umar,
Berdiri tatkala tunduknya manusia,
Bersuara tatkala diamnya mereka,
Menggerunkan musuh durjana.

Serta senyuman Syed al-Qutb,
Ketika berhadapan dengan tali maut,
Akidah mantap tidak terrenggut,
Roh dakwahnya tidak surut.

Aku ingin kita seteguh Ibnu Zubbair,
Menahan panahan Hajjaj dengan rela,
Bersama si ibu tua,
Lantas syahid, rohnya ke syurga.

Marilah kita menyemai benih Hassan al-Banna,
Fikrahnya jernih, menggegar dunia,
Merelakan tubuhnya dimamah peluru,
Demi menegakkan kalam Allah dan Rasul.

Aku cintakan pemuda Giffari,
Menentang kezaliman walaupun diancam,
Moga kau lahir lagi di abad ini,
Jiwa jitu pemuda yang tak pernah suram.

Aku ingin kita sepemaaf Yusuf,
Tetap mencintai saudaranya,
Walaupun dihumban ke perigi tua,
Terpisah dari ayahanda bertahun lamanya.

Aku ingin pusara kita harum mewangi,
Bagai harumnya pusara Masyitah,
Semerbak kasturi.

Aku ingin persahabatan indah ini,
Bisa menjadi syafaat,
Di Mahkamah Mahsyar nanti.

Wallahualam.

Dakwah Tak Boleh Dipikul Oleh Orang yang MANJA


Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi dengan hamparan permaidani merah dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh rintangan, mehnah dan tribulasi. Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu yang merasa pahit getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang diseksa, ada yang harus berpisah dengan sanak-saudara, ada pula yang diusir dari kampung halamannya dan berderetan lagi kisah perjuangan manusia lain yang telah mengukir bakti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap jalan dakwah yang suci ini.

Cuba kita renungkan kisah peperangan Dzatur Riqa’ yang dialami oleh sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercungkil. Namun mereka tetap mengharungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya kerana keikhlasan mereka dalam perjuangan. Keikhlasan membuatkan mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya…

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Kerana sumbangan yang telah mereka berikan, dakwah ini tumbuh bersemi dan kita pun dapat menikmati hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelusuk dunia dan umat Islam telah mengembangkan populasi dalam jumlah besar. Semua itu kurnia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para as-Sabiqun al-Awwalun dalam medan dakwah ini. Semoga Allah meredhai mereka. Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat At-Taubah: 42.

لَوْ كَانَ عَرَضاً قَرِيباً وَسَفَراً قَاصِداً لاَّتَّبَعُوكَ وَلَـكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُون) التوبة : 42)

"Kalaulah apa yang engkau serukan kepada mereka (wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang mudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), nescaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu adalah jauh bagi mereka. dan mereka akan bersumpah Dengan nama Allah dengan berkata: “Kalau kami sanggup, tentulah kami akan pergi bersama kamu”. (Dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu)."

Mereka juga telah melihat pengajaran daripada orang yang dapat bertahan dalam mengharungi perjalanan yang berat itu, hanya kesetiaanlah yang dapat mengukuhkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cubaan dan pancaroba perjuangan. Ia menjadikan mereka optimis dalam menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan. Kesetiaanlah yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik ini untuk berada pada barisan paling depan dalam perjuangan. Kesetiaan jualah yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya serta setia dalam kesempitan dan kesukaran mahupun kelapangan dan kemudahan.

Sebaliknya orang-orang yang manja jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka selalu mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikan dakwah dengan pelbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak berjuang. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan. Penyakit wahan telah menyerang jiwa-jiwa mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan bahawa kepahitan adalah sebahagian risiko dan sunnah dakwah ini. Malah kesanggupan dalam dakwah mereka tergugat lantaran anggapan mereka bahawa perjuangan dakwah tidak harus mengalami kesulitan.

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ* وَلَوْ أَرَادُواْ الْخُرُوجَ لأَعَدُّواْ لَهُ عُدَّةً وَلَـكِن كَرِهَ اللّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُواْ مَعَ الْقَاعِدِينَ ) التوبة : 45-46)

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan yang hati mereka (sangat) ragu-ragu. Oleh itu mereka sentiasa bingung teragak-agak dalam keraguannya. Dan kalaulah mereka mahu keluar (untuk turut berperang), tentulah mereka menyediakan persiapan untuknya; tetapi Allah tidak suka pemergian mereka, lalu dilemahkanNya semangat mereka, dan dikatakan (oleh Syaitan): “Tinggalah kamu bersama-sama orang-orang yang tinggal”. (At-Taubah ; 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan kayu ukur ampuh untuk menilai daya ketahanannya dalam misi dakwah. Sikap ini membuatkan mereka sentiasa bersiap-siaga untuk menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai perajurit paling hadapan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia sentiasa berada pada posisinya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau apabila mereka ditempatkan pada bahagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah dan terliur dengan apa yang diperolehi oleh barisan depan sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang pejuang yang baik.

Marilah kita menyelusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Beliaulah yang disebutkan Hasan Al Banna sebagai orang yang sebaik sahaja pulang dari bekerja, beliau sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah dan kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari detik ke detik secara ‘maraton’. Beliau selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Akan tetapi, sesudah menunaikan tugas dakwah dengan sebaik-baiknya, beliau merupakan orang yang pertama sekali datang ke tempat kerjanya. Malah, beliaulah yang membukakan pintu gerbang pejabatnya.

Pernah beliau mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya itu tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al-Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail meminta izin untuk ke kota lainnya. Kerana keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan duit untuk beliau menaiki taksi. Abdul Fattah mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Aku sering ke mana-mana dengan teksi dan kereta-kereta mewah, tapi aku tetap dapat memikul dakwah ini dan aku pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karana itu, pakailah duit ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirehat sejenak.” Beliau pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khuatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kenderaan awam sahaja.”

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dimungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran.

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ] الأنفال : 29]

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya ia mengadakan bagi kamu (petunjuk) yang membezakan antara yang benar dengan yang salah, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta mengampunkan (dosa-dosa) kamu. dan Allah (sememangnya) mempunyai limpah kurnia yang besar.” (al-Anfal ; 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengharungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahawa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً] الأحزاب : 23]

“Di antara orang-orang yang beriman itu, ada yang bersikap benar, menunaikan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah (untuk berjuang membela Islam); maka di antara mereka ada yang telah selesai menjalankan janjinya itu (lalu gugur syahid), dan di antaranya ada yang menunggu giliran; dan mereka pula tidak mengubah (apa yang mereka janjikan itu) sedikitpun.” (Al-Ahzab ; 23)

Pernah seorang pejuang Palestin yang telah lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana ditemubual; “Apakah yang membuat anda dapat meninggalkan keluarga dan kampung halaman sebegini lama?” Jawabnya, “Kerana perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih bererti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Aktivis dakwah sangat menyakini bahawa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi pelbagai rintangan dakwah. Jika dibandingkan apa yang kita sumbangkan serta apa yang kita harungi dalam jerit perih perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini hanyalah secebis pengorbanan waktu untuk dakwah, secubit pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah dan sekelumit pengorbanan harta dari keseluruhan harta kita yang banyak. Cubalah bandingkan dengan pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat mengharungi kegetiran ini kerana kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kubu pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun kerana keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah rang yang menakjubkan yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini, “Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini atau kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini?”

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Ketabahan, keseriusan dan kesungguhan aktivis dakwah merupakan kenderaan yang akan menghantarkannya kepada kejayaan dan kegemilangan. Semoga Allah menghimpunkan kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Adaptasi dari tulisan : Drs. DH Al Yusni
Baitul_Irfan yahoogroups :)

sumber-(ustaz hahnif)

Laut dan Dakwah – Sebuah Refleksi Jiwa

Salam sejahtera dan salam rasa dari hati… Gambar ini gambar pantai, tapi hati ini tergerak nak bercerita tentang laut. Laut yang tena...